Amankan listrik Pulau Dewata, Jawa Bali Crossing bakal rampung di 2019

Senin, 25 September 2017 | 07:10 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Timur dan Bali I (UIP JBTB I) menargetkan jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV yang akan memasok listrik dari Jawa ke Pulau Bali dapat beroperasi pada 2019 mendatang.

Proyek ini sendiri merupakan salah satu langkah PLN untuk memastikan ketersediaan listrik di Pulau Bali pada 2021. Saat ini proyek yang dikenal dengan nama Jawa Bali Crossing ini masih dalam tahap pra-konstruksi yakni proses lelang serta pengurusan ijin.

Manajer Unit Proyek Pembangunan Jaringan II PLN JBTB I, Indra Yoga Suharto, menjelaskan saat ini pasokan listrik di Pulau Bali masih dalam taraf aman dengan daya terpasang mencapai 1.290 MW, daya mampu sebesar 1.100 MW dan beban puncak 860 MW. Namun kondisi ini akan berubah, dimana dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 8,7% per tahun, maka  pada tahun 2021 mendatang beban puncak di Bali akan tembus ke angka 1.214 MW atau lebih tinggi dari daya mampu.

“Jika ini terjadi maka bisa dipastikan Pulau Bali akan mengalami kekurangan listrik. Proyek Jawa Bali Crossing adalah salah satu solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan ini,” katanya kepada wartawan di Banyuwangi, Sabtu (23/9/2017).

Melalui proyek ini, nantinya Bali akan mendapat pasokan listrik dari Jawa, tepatnya dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton dengan kapasitas mencapai 2.800 MW. Listrik sebesar itu akan dialirkan melalui jaringan kabel udara.

Metode ini dianggap lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan jika harus dibangun pembangkit listrik di Pulau Bali. Untuk menyamai kapasitas 2.800 MW yang akan dialirkan melalui Jawa Bali Crossing, setidaknya dibutuhkan pembangunan 9 pembangkit listrik berkapasitas masing-masing 300 MW di seantero Pulau Bali.

“Pembangunan banyak pembangkit listrik di Pulau Bali tentunya tidak sesuai dengan Visi Pemerintah Provinsi Bali yang ingin Bali Go Green. Pembangunan banyak pembangkit, yang kemungkinan besar akan menggunakan bahan bakar Batubara, juga tidak sesuai dengan visi pemerintah pusat untuk mengurangi bauran energi batubara menjadi sekitar 30% pada tahun 2025,” tutur Yoga.

Proyek Jawa Bali Crossing ini nantinya akan menjadi salah satu jaringan kabel udara terpanjang di Indonesia yang melewati 6 kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi di Jawa Timur serta kabupaten Buleleng, Jembrana dan Tabanan di Bali dengan total 514 tower SUTET yang akan didirikan ditambah 4 tower jangkar dan 2 tower crossing yang melintasi selat Bali.

Tower crossing yang masing-masing dibangun di Watudodol, Banyuwangi dan Gilimanuk, Bueleng Bali inilah yang nantinya akan menjadi project icon Jawa Bali Crossing. Dua tower ini akan menjadi tower listrik tertinggi di dunia dengan tinggi mencapai 376 meter. Keduanya akan menyangga jaringan kabel yang melintas diatas selat Bali sepanjang 2,68 km. Untuk diketahui, selama ini, pasokan listrik ke Pulau Bali yang sebagian juga disuplai dari Pulau Jawa, dilewatkan jaringan kabel bawah laut.

Proyek Jawa Bali Crossing sendiri mendapat berbagai sumber pendanaan diantaranya US$ 224 juta dari Asian Development Bank (ADB), US$ 25 juta dari The ASEAN Infrastructure Fund Ltd. (AIF), US$ 100 juta dari Kreditanstalt fur Wiederaufbau (KfW) atau Bank Pembangunan Jerman dan Rp 223 miliar dari PLN. kbc8

Bagikan artikel ini: