Stok beras Bulog akhir tahun diprediksi di bawah 1 juta ton

Senin, 25 September 2017 | 07:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum Bulog memperkirakan stok beras yang dikelola hingga akhir tahun 2017 hanya mampu terkumpul di bawah 1 juta ton. Prediksi ini tentunya berarti mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 1,52 juta ton.

Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti menepis stok beras yang dimiliki diperkirakan tidak sampai mencapai 1 juta ton tersebut dikategorikan riskan. Jumlah tersebut akan mampu mengisi penyaluran program beras masyarakat sejahtera (rasta) selama empat bulan ke depan.

"Tidak apa apa. Tugas Bulog mengamankan program beras untuk masyarakat sejahtera (Rasta) Bisa untuk kebutuhan tiga-empat bulan penyaluran," ujar Djarot.

Mantan direktur Usaha Kecil Menengah  PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) ini menjelaskan prediksi menurunnya stok beras di gudang Bulog akhir tahun tidak terlepas dari seretnya pengadaan beras pada panen musim gadu 2017. 

Selain volume panen padi yang dihasilkan petani tidak sebanyak musim panen rendeng praktis membuat harga beras sudah bergerak diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Inpres No 5 tahun 2015.

Yakni untuk gabah Rp 3.700 per kilogram (kg) dan beras medium Rp 7.300 per kg.Kendati begitu, Djarot mengatakan Bulog terus berupaya melakukan serapan beras petani.

Menurutnya setengah dari hasil serapan itu berasak panen di Provinsi Sulawesi Selatan. "Agustus  minggu pertama kita dapat 4.000 ton per hari, terus meningkat menjadi 5.000 ton," ujar Djarot kepada wartawan di Jakarta, Minggu ( 23/9/2017).

Tahun 2017, Bulog mematok target serapan beras sebesar 3,7 juta ton, sekitar 500.000 ton diantara merupakan pengadaan beras dari komersil. Sekedar catatan saja, tahun 2016 lalu realisasi serapan Bulog sebesar 2,9 juta ton dari target yang lebih rendah yakni 3,2 juta ton beras.

Djarot menduga serapan beras hingga Agustus sebesar 1,6 juta ton. Kebijakan  fleksibelitas pembelian 10% di atas HPP sejak 7 Agustus hingga September baru memperoleh sebesar 330.000 ton beras.

Dalam catatannya pada panen gadu, jumlah serapan hanya 40% dari panen raya atau setara 30.000 ton per hari.Sejak sepekan lalu penyerapan Bulog menurun menjadi 8.000 ton per hari seiring suplai dari Sulawesi Selatan yang mulai menurun. 

Adapun Nusa Tenggara Barat, peluangnya menipis karena sentra produsen beras memasuki fase puncak kekeringan.Djarot menduga maksimal serapan Bulog hingga akhir tahun 2017 sebesar 2,5 juta ton. "Kalau sulit mencari berasnya mau bagaimana. Kita tinggal melapor kepada stakehoders," pungkasnya.

Kementan mengklaim produksi padi tahun 2016 mencapai 79 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 45 juta ton beras.Sementara konsumsi sebesar 33 juta ton.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron dengan surplus beras sebesar 12 juta ton beras semestinya Bulog tidak sulit mencari beras.Menjadi pertanyaan apakah produksi yang dilaporkan tertulis diatas menggambarkan keadaan riil dilapangan. kbc11

Bagikan artikel ini: