Tiga anak muda ini sukses ubah hal sepele jadi ide bisnis luar biasa

Senin, 02 Oktober 2017 | 07:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pernahkan Anda memperhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan minuman dalam sebuah gelas? Dan pernahkah anda berpikir bahwa hal sederhana yang oleh sebagian orang dinilai tidak penting diperhatikan itu justru bisa menjadi ide bisnis?

Ya, ternyata dari hal yang kecil dan remeh temeh, kalau kita cerdik bisa menjadi hal besar. Karena, itu semua tergantung dari eksekusi dan pengemasan. Sehingga, di dunia usaha tidak sedikit kesuksesan itu diraih yang awalnya berasal dari hal kecil. Bahkan, mungkin luput dari perhatian banyak orang.

Hal tersebut, diperlihatkan oleh Chief Executive Officer (CEO) Share Cup, Steven Aditya bersama dua rekannya, yaitu Chief Operating Officer (COO) Share Cup Eunike Regina Febby dan CEO Technology Share Cup Yosua Nathanael yang menyulap hal sederhana itu menjadi ide bisnis. Mereka membandingkan lamanya minum dengan durasi iklan di televisi.

Share cup berhitung, dengan tarif Rp 5 juta-Rp 85 juta per 30 detik, iklan di televisi tak jarang diabaikan penonton. Bahkan, penonton sering memindahkan channel saat iklan berlangsung. Sementara dengan iklan di gelas minuman, mau tidak mau konsumen akan melihatnya.

Menurut Steven, dengan kondisi tersebut, bisa jadi gelas minuman adalah sarana promosi yang lebih efektif dan efisien dibandingkan iklan di televisi. Bahkan, untuk produk tertentu, iklan melalui gelas minuman bisa lebih tepat sasaran.

Ide gelas kertas

Berawal dari pemikiran tersebut, mereka bertiga membuat startup Share Cup, yang pada ajang Socio Digi Leader (SDL) 2017 berhasil merebut mahkota juara. Pada ajang tersebut mereka bukan hanya berhasil menyisihkan ratusan peserta lokal, tapi juga 12 tim dari Australia, Belanda, Jerman, India, dan Perancis.

Start up ini pun unggul di ajang tersebut, karena Share Cup atau iklan produk ditayangkan melalui sebuah paper cup (gelas kertas) ramah lingkungan yang digunakan untuk kemasan produk minuman. Jadi, pemilik usaha minuman yang gelas minumannya menggunakan Share Cup tidak perlu lagi membeli gelas.

Steven mengatakan, biaya produksi gelas minuman tersebut sudah diperoleh dari pengiklan yang memasang promosi produknya di gelas tersebut. Jika gelas habis, pemilik usaha minuman tinggal menyampaikan informasi melalui aplikasi teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk kembali dipasok kembali.

"Kami memberikan alternatif kepada advertiser dengan media iklan melalui paper cup. Harganya jauh lebih hemat dibandingkan media iklan konvensional," ujar Steven, usai dinobatkan sebagai juara SDL 2017 di Gedung Bandung Digital Valley, Bandung, belum lama ini.

Ketika memulai startup tersebut, menurut Steven, ia dan rekannya merupakan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Nanyang Technological University yang tidak memiliki latar belakang keahlian di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ketiganya belajar secara autodidak.

"Semua tentang coding belajar dari internet dan scratch. Design juga waktu itu pakai power point," kata Steven.

Ke depan, menurut dia, Share Cup akan mempeluas konsep bisnis. Mereka akan menciptakan bungkus makanan reuseable guna mengurangi sampah plastik dan pada saat bersamaan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Dalam memulai startup, kata dia, selain ide yang kreatif, hal yang tak kalah penting adalah dampak sosial dari produk yang dibuat. "Kalau hanya bisa menghisap sumber daya, hanya akan membawa ke ambang kehancuran," katanya.

Volunteer wisata

Seperti halnya Share Cup, Travel Share, sang peringkat kedua hadir dengan ide wisata relawan (volunteer). CEO Travel Share Fidhzariyan Utama mengatakan, Travel Share menjadi media bagi traveller guna mendapat aktivitas volunteering di destinasi wisata berdasarkan skill yang dimiliki.

"Secara tidak langsung, Travel Share juga dapat meningkatkan marketing, sehingga warga Indonesia bisa menjadi relawan di daerah-daerah terpencil di Indonesia," katanya.

Secara sederhana, kata dia, dengan Travel Share, konsumen bisa berwisata gratis dengan menjadi relawan.

Sementara Market Hub, sang peringkat ketiga, mengangkat ide kekinian, dari fenomena e-commerce. Sang CEO, Dewa Wahyu mengatakan, idenya adalah untuk menghubungkan marketplace yang banyak bermunculan di Indonesia.

Dewa mengatakan, ia melihat bahwa marketplace di Indonesia sudah banyak. Namun, masih ada merchant yang jarang jualan online. Kalaupun ada, mereka hanya ada di satu tempat saja. "Market Hub memungkinkan konsumen belanja online pada satu tempat namun mencakup seluruh marketplace dalam satu dashboard," katanya. kbc10

Bagikan artikel ini: