Sulitnya menerangi Pulau Gili Iyang Madura

Rabu, 18 Oktober 2017 | 22:32 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Bagi warga Surabaya, listrik mungkin bukan lagi menjadi hal baru. Karena sistem kelistrikan PT PLN (Persero) telah berhasil menopang pertumbuhan ekonomi di kota pahlawan ini sejak lama. Bahkan rasio elektrifikasinya telah mencapai 92 persen.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan di kepulauan kecil sekiitar Madura seperti di Gili Iyang. Sampai sekarang,  pulau yang dihuni oleh 600 kepala keluarga ini masih belum tersentuh sistem kelistrikan PLN. Yang ada hanya beberapa pembangkit diesel berkapasitas kecil milik swasta.    

“Listrik PLN belum masuk di sana. Makanya kami berupaya menyelesiakan proyek pembangunan sistem kelistrikan PLN di sana. Target kami tanggal 10 November besok Gili Iyang sudah teraliri llistrik PLN,” ujar Manajer Komunikasi Hukum dan Adminitrasi PLN Distribusi Jatim Wisnu Yulianto saat ditemui kabarbisnis.com di Surabaya, Rabu (18/10/2017).

Dijelaskan Wisnu, saat ini Madura menjadi wilayah yang tingkat elektrifikasinya cukup rendah, yaitu sekitar 67 persen. Bahkan di kabupaten Sumenep rasio elektrifikasinya hanya sekitar 53,85 persen. Sementara rasio elektrifikasi Jatim mencapai 91 persen. Hal ini sebabkan ada banyak pulau terpencil yang sangat sulit untuk dilakukan pembangunan sistem kelistrikan PLN seperti di Gili Iyang.

“Ada sekitar 25 desa yang belum teraliri listrik di sejumlah kepulauan di Sumenep. Ini semata-mata karena sulitnya medan dan minimnya infrastruktur. Makanya tahun ini PLN Distribusi Jatim berkonsentrasi membangun sistem kelistrikan di sana,” katanya.

Bahkan untuk menurunkan material seperti tiang listrik di Gili Iyang harus menggunakan “getek” (perahu dari bambu) sejauh 1,5 kilometer untuk menjangkau dermaga pelabuhan Bancamara sebab kapal pengangkut tidak bisa merapat. Karena medan cukup sulit, tiang listrik yang bisa dikirim ke dermaga hanya sekitar 10 buah per hari.

“Berat tiang listrik yang diangkut mencapai 2 ton, maka perahu hanya bisa membawa dua buah tiang listrik dalam setiap keberangkatan. Padahal jumlah tiang yang harus diangkut mencapai 500 buah. Ini belum pengiriman mesin pembangkit yang memiliki bobot lebih berat lagi dan tidak boleh kena air. Makanya saya berpesan kepada petugas di sana, tolong diperhatikan pengiriman mesinnya karena tingkat kesulitannya sangat tinggi,” aku Wisnu.

Dalam perencanaan, proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Gili Iyang akan dilengkapi dengan tiga mesin pembangkit berkapasitas 500 KW sehingga total kapasitas PLTD Gili Iyang tang yanf bakal beroperasi per tanggal 10 November 2017 besok mencapai 1,5 MW.

Terkait investasi yang dibutuhkan untuk menerangi masyarakat di Gili Iyang ini menurut penuturan Wisnu mencapai Rp 11,68 miliar. Besaran investasi yang harus digelontorkan ini terbilang sangat mahal dan jauh dari nilai keekonomian karena hanya untuk menerangi sekitar 600 KK dengan tingkat konsumsi kira-kira sebesar 600 KW.  “Ini penugasan dan harus diaksanakan agar masyarakat terpencil mendapatkan keadilan dengan merasakan listrik PLN,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: