Penjualan Intiland capai Rp3 triliun, melonjak 115 persen

Jum'at, 20 Oktober 2017 | 09:30 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Perusahaan pengembang PT Intiland Development Tbk mencatat kinerja pertumbuhan penjualan (marketing sales) Rp 3 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun 2017. Angka ini melesat 115 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun 2016.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, melonjaknya nilai marketing sales secara signifikan terutama didorong penjualan proyek baru Fifty Seven Promenade, Jakarta Pusat.

Proyek pengembangan mixed use & high rise terpadu ini menorehkan penjualan Rp 1,5 triliun, berkontribusi 51 persen dari total marketing sales perseroan.

“Nilai marketing sales melonjak sebesar 115 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun 2016 yang jumlahnya sebesar Rp 1,4 triliun,” ungkap Archied dalam keterangan tertulis yang diterima kabarbisnis.com, Kamis (19/10/2017).

Ditinjau berdasarkan segmen pengembangannya, kontribusi marketing sales terbesar berasal dari proyek mixed-use dan high rise senilai Rp 1,85 triliun, atau 61 persen dari keseluruhan.

Penjualan dari segmen kawasan industri tercatat sebagai penyumbang marketing sales terbesar berikutnya dengan angka Rp 531 miliar atau 18 persen.

Sementara segmen kawasan perumahan memberi andil Rp 343 miliar, atau 11 persen dari keseluruhan. Berikutnya segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berulang (recurring income), menyumbang Rp 294 miliar, atau 10 persen dari keseluruhan.

Archied menjelaskan berdasarkan jenis sumbernya, pendapatan dari pengembangan (development income) mencetak kontribusi Rp2,7 triliun, atau 90 persen dari keseluruhan.

Sementara, recurring income yang bersumber dari penyewaan ruang kantor, ritel, pengelolaan lapangan golf, klub olah raga, pergudangan, dan fasilitas memberikan Rp 294 miliar atau 10 persen.

“Meskipun sumbangan recurring income baru sekitar 10 persen, namun nilainya melonjak 32 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun lalu,” sebut Archied.

Peningkatan recurring income perseroan didorong kenaikan pendapatan dari penyewaan ruang perkantoran dan fasilitas, terutama yang berasal perkantoran South Quarter di Jakarta Selatan.

“Kami melihat prospek penyewa masih bagus. Saat ini okupansi baru mencapai 58 persen, sehingga berpotensi naik dan akan meningkatkan recurring income,” ujar Archied.

Perseroan optimis kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik tahun ini. Kebutuhan masyarakat terhadap produk properti berkualitas dan lokasinya strategis relatif masih cukup tinggi. Selama ini konsumen maupun investor dinilai cenderung hanya mengambil sikap menunggu (wait and see) untuk membeli maupun berinvestasi di sektor properti.

“Respon positif pasar pada peluncuran Fifty Seven Promenade memberikan indikasi bahwa kepercayaan konsumen mulai pulih. Produk properti yang berkualitas, punya keunggulan konsep, serta berada di lokasi strategis tetap memiliki potensi besar untuk terserap pasar,” ungkapnya.

Perseroan menilai bahwa secara umum iklim pasar properti cukup kondusif. Stabilitas makro ekonomi, tren penurunan suku bunga, penetapan kepemilikan properti untuk warga negara asing, serta iklim investasi yang relatif kondusif, berpotensi menjadi katalis pertumbuhan industri properti nasional di masa depan. kbc7

Bagikan artikel ini: