Inspirasi Ino Suwarno, dari 140 tanaman jeruk raup duit ratusan juta

Selasa, 24 Oktober 2017 | 07:47 WIB ET

KISAH manis dari budidaya jeruk dirasakan Ino Suwarno. Sudah empat tahun terarkhir, petani berusia 53 tahun itu merasakan manisnya panen buah jeruk dekopon yang dibudidayakannya sejak 2011.

Dari kebun yang asri di ketinggian Kabupaten Bandung Barat, jeruk dekopon yang dikembangkan Ino rutin memasok beragam toko ritel khusus produk hortikultura modern seperti Ranch Market dan Total Segar yang notabene membidik pasar premium.

Ino mengaku kewalahan karena permintaan jeruk dekopon semakin meningkat di sejumlah kota besar. Pasar menyambut antusias jeruk yang berbeda dengan jeruk pada umumnya ini. Jeruk dekopon berbentuk besar, mirip jeruk Bali. Kulitnya besar, dagingnya pun tebal namun lembut ketika berada di ujung lidah. Rasa buah manis tanpa biji.

”Ada permintaan untuk memasok Jawa Timur, tapi saya tolak karena memenuhi peningkatan permintaan di Jabodetabek saja saya sudah kesulitan,” ujar Ino.

Ino menuturkan, jumlah petani di daerahnya yang terjun membudidayakan jeruk dekopon masih dalam hitungan jari. Maklum saja, masyarakat di Desa Cihedeung, Kecamatan Parompong, Kabupaten Bandung Barat, sejak lama membudidayakan tanaman hias di pekarangan rumah.

Berada di ketinggian diatas 700 meter di atas permukaan laut menjadikan suhu udara di wilayah Cihedeung cukup sejuk. Hal itu membuat berbagai tanaman hias dapat tumbuh dengan mudah. Ino juga menggeluti profesi petani bunga potong sejak 1984, kemudian beralih bertani brokoli hingga cabai paprika mulai 1989. Ino mengembangkan dengan membangun bangunan kaca (Greehouse) bernaungan bahan plastik dan bambu. Usaha taninya cukup berkembang dan mampu bertahan lebih dari 20 tahun.

Seiring perjalanan waktu, Ino mulai berpikir untuk mulai membudidayakan jeruk dekopon. Kala itu, sekitar pertengahan 2011, seorang kawannya bercerita tentang jeruk dekopon dari Jepang. Oleh kawannya, Ino dijanjikan bisa mendapat asistensi langsung penyuluh dari Jepang. 

Naluri Ino sebagai petani menangkap ada prospek cerah bisnis jeruk dekopon. Pasalnya, di Jepang, jeruk dekopon dijual sangat mahal. Untuk satu buah seberat 340 gram saja, warga Jepang harus merogoh kocek setara Rp 80.000. "Saya yakin di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, juga akan laku," ujarnya.

Dia pun menyambut cerita kawannya itu dengan mulai memetakan langkah-langkah pembudidayaan. Seorang pendamping dari Jepang pun dengan giat menularkan ilmunya ke Ino.

"Mr Kurato namanya. Dia memberi pembelajaran bagaimana teknik budidaya jeruk dekopon. Di awal penanaman, paling tidak dua kali dalam setahun Mr Kurato datang memonitor dan terus memberikan penyuluhan,” ujar Ino.

Saat itu, penanaman jeruk dekopon masih menggunakan teknik tumpang sari dengan tanaman paprika. Tak butuh waktu lama bagi Ino untuk berani memutuskan mengganti tanaman di kebunnya dengan jeruk dekopon.

Ino menceritakan, tanaman jeruk dekopon sudah mulai berbuah meski usia tanaman berusia satu tahun atau tinggi pohon sebesar 0,5 meter. Namun Ino lebih memilih membuang bunga yang mulai tumbuh sampai usia tanaman lebih dari 2,5 tahun. Hal itu disengaja untuk memastikan akar pohon benar-benar mampu menopang berat pohon.

Bibit jeruk dekopon dibudidayakan Ino melalui cara okulasi atau teknik pembiakan tanaman secara vegetatif dengan menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lainnya. Agar tanaman jeruk dekopon berproduksi optimal, sambung Ino mengutip tips dari Mr Kurato, penanaman bibit harus miring 45 derajat. Hal ini akan memperbanyak tumbuhnya tunas. 

"Usia tanaman jeruk dekopin dapat bertahan hingga 20 tahun apabila petani disiplin merawat tanaman dan lingkungan kebun. Ketika tanaman tengah berbuah, penyemprotan anti hama ditekan agar potensi residu menempel di buah semakin kecil," ujar Ino:

Ino memiliki dua kebun masing masing seluas 1.500 meter persegi dan 1.700 meter persegi. Jumlah pohon dekopon yang ditanam sebanyak 140 pohon. Dua kebun itu mampu menghasilkan rata-rata 9 ton atau setara satu pohon bisa menghasilkan jeruk dekopon sebesar 60 kilogram.

 Kejelian menangkap peluang, kemauan belajar, dan kerja keras Ino kini berbuah manis. Pundi-pundi uang diraupnya. Di tingkat pengepul, jeruk dekopon dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu A di mana 1 kilogram berisi 3 buah seharga Rp 55.000 dan grade B di mana 1 kilogram berisi 4 buah seharga Rp 40.000. 

Jauh-jauh hari, cerita Ino, jadwal tanam sekaligus panen sudah diatur sedemikian rupa untuk memasok pasar. Masa panen berlangsung mulai April sampai September. Dari hasil budidaya sebanyak 140 pohon jeruk dekopon, Ino berhasil meraih omzet Rp 420 juta dalam satu musim. Sementara untuk sejumlah biaya seperti tenaga kerja sebanyak tiga orang, obat-obatan dan pupuk serta biaya penyusutan greenhouse, Ino harus menyiapkan budget Rp 120 juta.

"Laba bersihnya berkisar Rp 295 juta,” terangnya tersenyum puas.

Bukan hanya menjalankan bisnis dari budidaya, Ino kini mulai menjual bibit jeruk dekopon ukuran 60 cm dalam pollybag mulai harga Rp 50.000. Awalnya, bibit jeruk itu hanya disambut oleh para pecinta tanaman, bukan petani yang berorientasi ekonomi.

Namun, seiring cerita prospek bisnis jeruk dekopon yang terus menyebar, baru-baru ini Ino memperoleh pesanan 1.500 bibit yang rencananya akan ditanam di lereng Gunung Arjuna, Malang, Jawa Timur dengan tumpang sari tanaman melon California.

Ino optimistis, bisnis budidaya jeruk dekopon bakal makin moncer karena tingginya permintaan pasar seiring terus tumbuhnya kelas menengah baru di Indonesia. Hitungan kasar bersama para petani, kini di Kabupaten Barat, lebih kurang ada 1.000 pohon yang sudah berproduksi. Itu pun belum mampu memenuhi permintaan di kota-kota besar. 

Periuk nasi masih terbuka, siapa lagi yang menjadi jutawan berikutnya? kbc11

Bagikan artikel ini: