Industri otomotif optimis pasar masih menggelinding, ini indikatornya

Kamis, 26 Oktober 2017 | 09:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku industri di Tanah Air meyakini pasar otomotif dalam negeri masih terus membaik di sisa waktu tahun 2017 ini. Bahkan di tahun depan, diperkirakan proyeksi pertumbuhan atau daya serap pasar akan semakin meningkat dan membaik.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor, Fransiskus Soerjopranoto mengatakan, banyak indikator yang menunjukkan trend perbaikan itu. Salah satunya karena kenaikan harga jual dan volume ekspor beberapa komoditas unggulan Indonesia di pasar dunia.

Selain itu, kondisi pasar dunia di kelas kendaraan mengegah, terutama jenis kendaraan serba guna di pasar ASEAN, Asia, maupun Timur Tengah juga potensial tinggi permintaannya. "Kondisi ini jelas akan menjadi peluang terbaik bagi Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar," ucap Fransiskus di Tokyo sebelum mengikuti acara Tokyo Motor Show, di Jepang dikutip dari siaran persnya, Rabu (25/10/2017).

Menurutnya, beberapa pemain termasuk PT TAM sendiri juga terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi industrinya agar bisa bermain lebih luas di pasar domestik. Terbukti dari beberapa pabrikan juga kian giat menaikkan industrinya di sektor otomotif dari hulu hingga hilirnya.

"Saya yakin ke depan akan semakin baik. Beberapa wilayah seperti Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan yang sebelumnya sempat tertekan secara pasti dan perlahan akan bangkit di sisa waktu tiga bulan ini jelang akhir 2017 dan awal tahun 2018. Ketiga kepulauan ini adalah penghasil tambang dan produk unggulan CPO tersebut," kata Soerjopranoto.

Sebagai gambaran, salah satu indikator kuat pendorong agregat pasar otomotif nasional adalah kenaikan harga batu bara di pasar dunia. Saat ini harga batu bara sudah mencapai sekitar USD 92/ton atau setara dengan Rp 1,233 juta. Ini menjadi peluang kebangkitan ekonomi bagi wilayah-wilayah yang selama ini hidup dari tambang, seperti Sulawesi dan Kalimantan, yang selama ini sangat mungkin tertekan pasarnya.

Kebangkitan itu dengan sendirinya dipercaya akan menaikkan aktivitas bisnis dan pasar, salah satunya adalah sektor otomotif. Paling tidak masyarakat tersebut akan kembali membeli kendaraan niaga yang selama ini telah mereka lepas, karena kelesuan ekonomi untuk mempertahankan usahanya ketika harga jatuh.

"Nah kini aktivitas sudah kembali hidup dan mereka tentunya butuh mobilitas orang, logistik, dan angkutan hasil tambang. Dengan begitu mereka akan kembali membeli kendaraan. Ini baru satu sisi," tutur Soerjopranoto.

Potensi daya dobrak pasar otomotif lainnya, kata Soerjopranoto, adalah kenaikan harga kelapa sawit mentah (crude palm oil-CPO). Harga CPO di pasar dunia per Juli 2017, tepatnya harga CPO di bursa Malaysia untuk kontrak pada Oktober 2017 menuju ke angka 2.675 ringgit (USD 625/metrik ton atau sekitar Rp 8,375 juta/ton) per ton.

"Semua ini mengindikasikan harapan dan potensi positif perbaikan pasar otomotif ke depan. Apa lagi jika menyimak data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)layak para pelaku otomotif nasional optimistis target penjualan sepanjang tahun 2017 akan tercapai."

Data Gaikindo menunjukkan, penjualan mobil pada Januari-September 2017 mencapai 804.167 unit. Angka ini tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sembilan bulan di tahun 2016 yang hanya mencapai 782.841.

Indikasi ini cukup menyenangkan buat TAM. Apalagi sampai tahun 2017 dari Januari-September 2017, TAM yang melepas mereka Toyota sudah mencapai 289.921 unit. Jumlah ini tak terpaut jauh dari total penjualan Toyota selama tahun 2016 , yakni dari Januari-Desember 2016 yang mencapai 382.610 unit. Jika dibandingkan dengan total penjualan pasar domestik mengacu pada angka catatan Gaikindo mencapai 804.167 unit.

Peluang terbesar tetap di pasar MPV yang totalnya selama kurun waktu 2017 dari Januari-September 2017 mencapai 341.800 unit. Angka penjualan selama 2017 ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan pada periode sama tahun 2016 yang mencapai 313.546 unit. Rinciannya di tahun 2017 penyerapan pasar MVP low mencapai sekitar 196.500 unit dan MPV medium sebanyak sekitar 43.900 unit.

"Kami optimis, kita akan mencapai penjualan lebih baik dari tahun 2016 jika rata-rata penjualan di sisa waktu tiga bulan ini mencapai di angka sekitar 34.000-36.000 per bulan. Itu artinya masih ada sekitar 105.000 unit. Dengan demikian total penjualan Toyota bisa mencapai sekitar 395.000 unit," tutupnya optimistis. kbc10

Bagikan artikel ini: