Setahun, jumlah pengangguran RI bertambah 10 ribu orang

Selasa, 07 November 2017 | 08:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia per Agustus 2017 mencapai sebesar 7,04 juta orang, bertambah 10 ribu orang dibanding realisasi 7,03 juta orang di Agustus 2016. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,50 persen atau turun 0,11 poin.

Kepala BPS, Suhariyanto mengungkapkan, dari TPT sebesar 5,50 persen di Agustus 2017, pengangguran terbanyak merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 11,41 persen.

"TPT menurut pendidikan, tidak banyak berubah. Tertinggi untuk lulusan SMK sebesar 11,41 persen. Lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,29 persen, Diploma I/II/III 6,88 persen, dan Universitas 5,18 persen," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Sementara TPT terendah, menurut pria yang akrab disapa Kecuk ini, jenjang Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 2,62 persen. "Lulusan SD ke bawah memiliki TPT paling rendah karena mereka tidak punya pilihan pekerjaan. Jadi mau kerja apa saja dijalani," tutur dia.

Dari jumlah 128,06 juta orang jumlah angkatan kerja, sebanyak 121,02 juta orang merupakan penduduk bekerja dan pengangguran 7,04 juta orang. Berdasarkan pendidikan, pekerja yang mengecap jenjang pendidikan SD ke bawah sebanyak 50,98 juta atau 42,13 persen, SMP 21,72 juta orang atau 17,95 persen.

Bekerja dengan pendidikan SMA 21,13 juta orang atau 17,46 persen, SMK 12,59 juta orang atau 10,40 persen, Universitas 11,32 juta orang atau 9,35 persen, dan Diploma 3,28 juta atau 2,71 persen.

"Kita masih punya pekerjaan rumah yang besar karena mayoritas dari pekerja masih pendidikan rendah. Jadi perlu ada upaya meningkatkan kualitas pendidikan pekerja, baik melalui formal maupun vokasi atau training," terangnya.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Sairi Hasbullah menuturkan, pengangguran paling banyak lulusan SMK karena keahilan mereka belum tentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

"SMK kan berdiri supaya lulusannya mandiri, tapi keahlian lulusan SMK belum tentu match keahliannya dengan perusahaan. Jadi terpaksa mereka menunggu lama, menganggur. Kalau pendidikan SMA kan lebih fleksibel," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: