Mau jadi kota perdagangan berkelas dunia, Surabaya butuh anak muda kreatif

Minggu, 12 November 2017 | 19:21 WIB ET
Dari kanan: Ketua Kadin Kota Surabaya Jamhadi didampingi Ketua HIPMI Jatim Giri Bayu Kusumah, dan Ketua HIPMI Surabaya Kuswana Mandiri Septian saat membuka Surabaya Business Forum 2017 di DBL Arena Surabaya, Minggu (12/11/2017).
Dari kanan: Ketua Kadin Kota Surabaya Jamhadi didampingi Ketua HIPMI Jatim Giri Bayu Kusumah, dan Ketua HIPMI Surabaya Kuswana Mandiri Septian saat membuka Surabaya Business Forum 2017 di DBL Arena Surabaya, Minggu (12/11/2017).

SURABAYA, kabarbisnis.com: Era digital tidak bisa dihindari saat ini. Melaluii digital, sebuah produk bisa dikenal pasar dan mampu menjangkau konsumen dari berbagai negara. Pun demikian, berkat digital, sebuah kota atau sebuah negara bisa dikenal di belahan dunia.

Surabaya yang notabene sebagai kota terbesar kedua di Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kota perdagangan dan jasa berkelas dunia melalui digital marketing.

Hal itu dikatakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, Jamhadi saat menjadi keynote speaker dalam Surabaya Business Forum 2017 dengan tema "Surabaya Darurat Digital: Bongkar Rahasia Sukses Berbisnis di Era Digital" yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Surabaya, di DBL Arena Surabaya, Minggu (12/11/2017).

"Surabaya telah menjadi kota perdagangan dan jasa. Namun untuk menjadi kota perdagangan dan jasa berkelas dunia, butuh anak-anak muda yang kreatif. Saat ini, ekonomi kreatif baru memberi kontribusi sekitar 4 persen dari PBB di Surabaya," katanya.

Jamhadi mencontohkan, sejumlah negara seperti Switzerland, Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura adalah negara-negara yang sangat getol mendorong pengembangan ekonomi kreatif. "Dan perlu diketahui, negara-negara tersebut telah menopang 16 persen digital dunia," tukasnya.

Ditambahkan Jamhadi, yang dihadapi pemerintah saat ini adalah masih adanya kesenjangan ekonomi. Misalnya antara usaha mikro kecil dengan perusahaan besar. "Oleh karena itu Kadin Kota Surabaya telah menggandeng kalangan asosiasi ritel, agar UKM bisa diwadahi dan ditampung produknya di gerainya," ujarnya.

Sementara itu dalam kegiatan yang diikuti sekitar 1.500 peserta dari kalangan pengusaha dan masyarakat umum tersebut, juga menghadirkan digital entrepreneur sekaligus founder yukbisnis.com Jaya Setiabudi, Digital Marketer & Dewa Selling Dewa Eka Prayoga, dan motivator Andrie Wongso.

Baik Jaya Setiabudi maupun Dewa Eka Prayoga memaparkan, trik bagaimana menjalankan digital marketing baik melalui sosial media maupun website. Sedangkan Andrie Wongso lebih memupuk semangat dan memotivasi peserta yang sebagian besar anak muda untuk terus berusaha dan mencapai kesuksesan.

Ketua HIPMI Surabaya, Kuswana Mandiri Septian mengatakan, ada alasan tersendiri mengapa mengangkat tema "Surabaya Darurat Digital". Dia bilang, hal itu berangkat dari beberapa anggota HIPMI yang mempunyai usaha ritel atau grosir di pusat pertokoan Surabaya.

"Kemudian kita mengadakan beberapa kali diskusi, usaha ritel dan grosir ini sedikit terdampak dengan adanya pergeseran sistem ekonomi," ujar dia.

Dengan seminar ini, pihaknya ingin mengajak publik Surabaya lebih aware menyadari bahwa ekonomi yang bergeser ke online penting dan mutlak untuk upaya survive.

"Apalagi saat ini Surabaya jadi pusat ekonomi Indonesia Timur. Tapi semakin berkembangnya pembangunan, perlahan-lahan Indonesia Timur akan punya sentral ekonomi sendiri-sendiri. Selain itu, Surabaya harus berpikir jauh ke depan, tidak konvensional saja," katanya.

Ditambahkan Kusnawa, HIPMI ingin menstimulus pelaku bisnis muda non konvensional agar di tahun 2018 mendatang sudah punya strategi yang akan dikembangkan.

"Kita secara anggota hampir 30-40 persen sudah aware dengan digitalisasi. Contoh ketika memasarkan dan menceritakan produk tidak lagi menggunakan media konvensional. Kekuatan facebook dan instagram bagi usaha mereka, ini yang masih belum diketahui pebisnis lokal," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: