UMKM di eks lokalisasi Dolly-Jarak berpotensi bersaing di pasar internasional

Rabu, 15 November 2017 | 09:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Anggota DPR RI, Bambang Haryo mengapresiasi geliat industri rumahan di kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Dia berharap Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Pahlawan ini bisa terus berjaya dan bisa bersaing di pasar internasional.

"Kami melihat langsung industri pemula atau UMKM. Terutama ini Samijali (kripik yang diproduksi warga eks lokalisasi Jarak, Kelurahan Putat Jaya). Kami ingin melihat bagaimana cara proses produksinya. Ini industri mikro,” kata Bambang di sela resesnya.

Bambang mengaku, pihaknya telah melakukan bimbingan teknis (bimtek) kepada para pelaku usaha kecil agar produksi sesuai ketentuan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). "Kemarin kami melakukan satu pembimbingan, atau bimtek untuk masalah prosedur ini-itu dan sebagainya, SOP, termasuk pemasaran ke masyarakat," akunya.

Selebihnya, Bambang Haryo berharap para pelaku UMKM di Surabaya, termasuk di Sidoarjo, bisa menjadi besar tidak hanya di level nasional. "Kita harapkan begitu. Kripik Samijali ini enak, saya sampai habis banyak," tegasnya.

Politikus Partai Gerindra ini juga berjanji akan ikut membantu dalam hal pemasaran industri rumahan, terutama home industry di eks-lokalisasi Dolly dan Jarak melalui BUMN-BUMN, yang memang memberi display produk-produk UMKM. "Contohnya Angkasa Pura," tandasnya.

Informasi saja, nama Kripik Samijali diambil dari singkatan Samiler Jarak-Dolly. Kripik asli dari singkong ini merupakan hasil produksi ibu-ibu PKK Gang IV A Blok A, RT 11/RW III, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.

Menurut Ketua UMKN Kripik Samijali, Dewi Roro, kripik singkong yang bentuk awalnya bulat besar kemudian dipotong kecil-kecil lalu dikemas dalam plastik ini, sudah tembus pasar Eropa, atau tepatnya di Negeri Kincir Air, Belanda.

"Ini kan dampak penutupan (Dolly). Kemudian Bu Risma (Wali Kota Tri Rismaharini) membina warga-warga di sini (Jarak). Kalau di Dolly kan ada industri sepatu, kalau di sini ada Kripik Samijali, ada Kripik Tempe Bang Jarwo dan ada juga yang bikin batik," kata Dewi.

Kripik Samijali sendiri, lanjutnya, kali pertama dikenalkan oleh mahasiswa-mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. "Kita pernah ekspor ke Belanda sekali. Dan sampai saat ini, tempat kami banyak dikunjungi mahasiswa yang PKL. Seperti sekarang ini misalnya, ada mahasiswa dari Unair yang PKL," tegasnya bangga.

Dewi mengaku, kripik yang diproduksi bersama delapan ibu-ibu PKK lainnya ini, perbulannya bisa menghasilkan ribuan bungkus. "Harganya ada yang Rp 10 ribu, Rp 13 ribu, dan Rp 15 ribu. Rasanya ada empat macam, ada original, balado, sapi panggang, dan keju," ucapnya.

Kemudian, yang membanggakan lagi, industri kripik Samijali ini juga pernah dikunjungi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa media 2016 lalu. Waktu itu, menteri yang dikabarkan akan mengikuti running Pilgub Jawa Timur 2018 ini menyerahkan bantuan modal usaha dari Kementerian Sosial senilai Rp 160 juta.

"Bahkan Bu Khofifah juga ikut menggoreng sendiri di sini," sahut anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo yang tengah reses di rumah industri kripik Samijali. kbc10

Bagikan artikel ini: