Jualan ayam goreng, FAST incar pendapatan Rp6,03 triliun di 2018

Jum'at, 17 November 2017 | 09:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST)  mulai menyusun rencana bisnis di tahun 2018. Emiten konsumer pemegang merek KFC ini menargetkan  pendapatan penjualan senilai Rp 6,03 triliun pada tahun 2018. Target ini tumbuh 10% dari proyeksi realisasi kinerja akhir tahun  2017 ini.

Berdasarkan materi paparan publik emiten kode saham FAST ini di Bursa Efek Indonesia, Kamis 16 November, manajemen FAST memprediksi, hingga akhir tahun ini bisa membukukan pendapatan penjualan senilai Rp 5,48 triliun. Nilai ini mengalami pertumbuhan 9,84% dibandingkan capaian tahun 2016 sebesar Rp 4,99 triliun.

FAST yakin bisa mencapai target tersebut mengingat kinerja perusahaan ini cukup solid . Sebagai contoh, untuk periode sembilan bulan tahun 2017 ini, FAST mampu membukukan penjualan Rp 3,9 triliun, tumbuh 9,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 3,57 triliun.

Sejumlah faktor positif menjadi penopang kinerja FAST sepanjang 2017. Yakni penurunan harga ayam, inovasi produk, efisiensi serta ekspansi bisnis perusahaan ini. .

Menurut materi paparan publik tersebut, perusahaan ini berhasil meningkatkan persediaan inventori selama 2-3 bulan menjelang liburan yakni dengan memanfaatkan momentum saat harga ayam di pasaran turun. Tak hanya itu saja, FAST  juga berhasil meningkatkan penetrasi ke daerah tingkat II yang potensial.

Tahun depan, FAST berencana menambah 35 gerai baru dan 20 KFC box. Adapun, hingga September tahun ini jumlah restoran FAST sudah mencapai 599 unit, meningkat 24 unit dibanding jumlah restoran akhir tahun 2016 yang sebanyak 575 unit.

Meski begitu, manajemen FAST juga mencatat sejumlah faktor negatif yang membatasi kinerja perusahaan. Faktor tersebut, misalnya,  kenaikan upah minimum nasional yang berdampak pada hasil operasional perusahaan ini.

Makanya, perusahaan ini mengaku membatasi penerimaan karyawan baru tahun ini. Per September 2017, FAST menambah karyawan baru sebanyak 1.629 orang dibandingkan posisi September 2016. Total karyawan perusahaan ini kini mencapai 18.083 orang, dengan 92% di antaranya memiliki tingkat pendidikan SMA/sederajat.

Kenaikan upah minimum dan harga BBM serta nilai tukar dollar juga berimbas pada kenaikan harga beberapa bahan baku dan material handling. Perusahaa ini juga mengaku menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan kuliner-kuliner lokal yang semakin menjamur dan popular. kbc10

Bagikan artikel ini: