Bos BI beberkan daftar risiko yang hantui ekonomi Indonesia

Rabu, 29 November 2017 | 18:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com:Meski mendapat pengakuan dari dunia luar, ekonomi Indonesia masih akan menghadapi sejumlah tantangan ke depan. Tak hanya datang dari dalam negeri sendiri, tantangan tersebut juga datang dari global.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal ketiga 2017 yang tercatat 5,06% telah mengalami pemulihan. Dalam beberapa hal, perbaikan yang dilakukan Indonesia juga mendapat pengakuan dari dunia.

Misalnya, peningkatan peringkat surat utang menjadi layak investasi dari Standard and Poor's (S&P), kenaikan indeks daya saing global (Global Competitiveness Index) oleh World Economic Forum ke posisi 36, dan kenaikan peringkat kemudahan dalam berusaha (Ease of Doing Business) oleh World Bank ke posisi 72.

Namun, "Dinamika perekonomian masih menyiratkan risiko yang perlu kita perhatikan bersama," kata Agus dalam acara Pertemuan Tahunan BI di Jakarta Convention Center, Senin (28/11/2017).

Tantangan atau risiko yang dimaksud, yaitu struktur ekspor Indonesia yang masih terpaku pada komoditas sumber daya alam (SDA) dan tingkat penyebaran pasar ekspor Indonesia yang mulai terkonsentrasi ke China, mengingat rebalancing yang dilakukan China mengalami perlambatan.

Kemudian, ketergantungan pada impor jasa, khususnya jasa transportasi yang membuat neraca jasa terus mencatat defisit, pembiayaan yang belum optimal dan masih bergantung pada pembiayaan luar negeri, hingga perkembangan ekonomi digital.

"Tetapi risiko yang timbul akan semakin kompleks. Misalnya, risiko tindak pidana pencucian uang, pendanaan terorisme, cyber trap, risiko konsumen, dan risiko sistemik yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan," tambahnya.

Sementara risiko yang berasal dari global yaitu risiko dari berlanjutnya pengetatan moneter yang bisa mempengaruhi arah pergerakan likuiditas dunia. Ada pula geopolitik di semenanjung Korea yang bisa mengubah arus modal di negara-negara emerging, termasuk Indonesia.

Risiko lain yakni gejala proteksionisme, akumulasi kerentanan sistem keuangan global yang terindikasi dari price earning ratio (PER) yang sudah terlalu tinggi, dan leverage perusahaan yang diikuti dengan kenaikan debt to service ratio di beberapa negara.

Sementara tantangan yang berasal dari global untuk jangka menengah panjang, yaitu pemulihan ekonomi global yang berisiko temporer karena tidak didukung produktivitas ekonomi dunia yang cukup tinggi.

Hal tersebut terlihat dari investasi di negara-negara G20 yang lebih lambat dibanding sebelum periode krisis keuangan.

Bagikan artikel ini: