RI genjot penetrasi ekspor kopi dan kelapa sawit ke Mesir

Rabu, 06 Desember 2017 | 15:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdangan (Ditjen PEN Kemendag) gencar meningkatkan hubungan dagang dan kinerja ekspor. Saat ini, pemerintah membidik Mesir sebagai salah satu mitra dagang.

Dirjen PEN Arlinda mengungkapkan sebelumnya pemerintah sukses meraup transaksi sebesar US$3,05 miliar pada misi dagang ke Jepang.Kemendag, lanjutnya, kini menyasar pasar ekspor nontradisional untuk produk unggulan kopi dan kelapa sawit. Misi dagang ini berlangsung pada 5-8 Desember 2017 di Kairo, Mesir.

"Produk unggulan yang dibawa melalui misi dagang ini adalah kopi dan kelapa sawit. Selain itu, Indonesia juga bermaksud mengidentifikasi potensi dan hambatan perdagangan antara Indonesia dan Mesir serta mempererat hubungan dagang kedua negara," jelas Arlinda di Jakarta, Rabu (6/12/2017)

Misi dagang kali ini, lanjutnya, pemerintah memboyong 15 perusahaan Indonesia dari berbagai sektor, antara lain kelapa sawit, kopi, kakao, lada, kertas, dan jasa (surveyor dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition/MICE).

Berdasarkan data BPS, ekspor kopi Indonesia ke Mesir pada tahun 2016 mencapai US$41,25 juta. Kopi Indonesia merupakan produk terbesar yang dibeli buyer Mesir pada Trade Expo Indonesia 2017 dengan transaksi sebesar US$30 juta.

Di sisi lain, ekspor kelapa sawit ke Mesir pada tahun yang sama mencapai US$657,28 juta. Sedangkan ekspor kelapa sawit Indonesia ke dunia mencapai US$18,1 miliar.

"Masih banyak peluang ekspor kopi dan kelapa sawit ke Mesir. Untuk itu, diharapkan melalui misi dagang ini, kita bisa meningkatkan ekspor kedua komoditas tersebut lebih besar lagi ke Mesir," tandas Arlinda.

Total perdagangan Indonesia-Mesir pada tahun 2016 mencapai US$1,46 miliar dengan nilai ekspor Indonesia sebesar US$1,1 miliar dan impor US$352 juta. Dengan demikian Indonesia surplus US$758,3 juta. Sementara itu, total perdagangan kedua negara periode Januari-September 2017 tercatat mencapai US$1,12 juta atau surplus bagi Indonesia sebesar US$726,10 juta.kbc11

Bagikan artikel ini: