Pemerintah waspadai kendala distribusi pangan

Jum'at, 08 Desember 2017 | 08:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kendati keserdiaan pangan secara umum jelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 dapat dikatakan aman, namun pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya berbagai kondisi yang dapat menyebabkan terhambatnya distribusi pangan.Sepertihalnya faktor cuaca dan terjadinya bencana alam di sejumlah wilayah di Tanah Air baru baru ini yang mengakibatkan kenaikan harga pangan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian  Agung Hendriadi menuturkan pemerintah memberi perhatian  dan khusus untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di sembilan provinsi yakni Daerah Khusus Ibu kota Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara , Papua Barat dan Papua. Menurut Agung potensi masalah yang mungkin saja terjadi sehingga perlu diantisipasi mengingat kebutuhan pangan dapat berubah diatas perkiraan.

Agung mengakui ketersediaan tiga bahan pangan pokok masih dipenuhi dari impor seperti daging,bawang putih dan kedelai. Meski begitu, Agung berkeyakinan pasokan pangan pokok dapat memenuhi kebutuhan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018.

“Untuk daging sapi kita antisipasi dengan impor,” ujar Agung kepada wartawan usai Rapat Koordinasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Untuk memastikan hal tersebut dapat diimplementasikan dilapangan , Kementan menggandeng para pemangku terkait seperti Kementerian Perdagangan , Satgas Pangan ,Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KKPU) , kepala dinas yang menangani urusan pangan dan perwakilan para persaingan usaha.

Ketua Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan pihaknya akan mengeluarkan petunjuk teknis kepada jajarannya di setiap polres untuk mengamankan jalur distribusi pangan. Menurutnya waktu liburan di akhir tahun akan berlangsung cukup panjang  sehingga kebutuhan pangan dipastikan meningkat.

Kesempatan sama, Direktur SDM dan Umum Bulog Febriyanto menuturkan stok beras di gudang Bulog sekitar 1,1 juta ton. Febriyanto mengklaim stok beras tersebut akan bertahan untuk kebutuhan distribusi rasta selama lima bulan ke depan. Meski serapan beras di akhir tahun  tergolong minim yakni 5000 ton , diharapkan dapat jumlah tersebut dapat bertambah seiring masuknya musim tanam mulai Januari mendatang.

Adapun untuk daging beku impor , stok yang berada digudang sekitar 18.000 ton. Febriyanto mengakui melalui rakortas pemerintah telah memberikan izin impor daging kerbau dari India sebesar 31.000 ton. Jumlah tersebut diyakini akan mencukupi sampai Hari Raya lebaran tahun 2018.

Adapun untuk gula, stok yang dimiliki Bulog sebesar 430.000 ton. Jumlah tersebut, kata Febri, belum ditambah dengan ketersediaan yang berada di distributor. Jumlahnya pun dinilai akan mencukupi hingga musim giling berikutnya.”Ditambah di distributor kurang lebih sama jumlahnya dan Insya Allah mencukupi sampai musim giling berikutnya," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan data Bulog, begini jumlah komoditas lainnya, yaitu: gula pasir sebanyak 413,9 ribu ton, jagung 29,6 ribu ton, daging sapi 18 ton, daging kerbau 18,6 ribu ton, bawang merah 42,47 ton, bawang putih 300,50 ton dan minyak goreng 1,04 juta liter.kbc11

Bagikan artikel ini: