Tiga pekerjaan ini terancam dilibas teknologi

Kamis, 14 Desember 2017 | 10:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Terdapat tiga jenis profesi yang diniai rentan menghilang karena pesatnya pertumbuhan teknologi saat ini. Tiga profesi tersebut antara lain, pekerja toko ritel, perbankan, dan di sebagian bidang perdagangan.

Hal itu diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Hanif mengatakan, rentannya tiga profesi tersebut lantaran tidak dibutuhkannya kemampuan atau skill khusus dalam menjalani jenis itu. Oleh sebab itu, sumber daya manusia pada profesi itu bisa dengan mudah digantikan oleh teknologi, contohnya seperti teller bank atau kasir toko ritel.

"Ya pasti terdampak ya (karena digitalisasi), cepat atau lambat ini pasti akan terdampak," kata Hanif.

Dirinya juga mengatakan bahwa semua sektor industri yang ada di dalam negeri harus segera memanfaatkan perkembangan teknologi agar bisnisnya bisa terus bertahan dan berkelanjutan.

"Industrinya harus segera berubah cepat, karena kalau enggak cepat akan menimbulkan goncangan industri yang baik berupa goncangan usaha atau business shock. Oleh karena itu semua industri memang harus segera beradaptasi. Skema transformasinya menjadi sangat penting," katanya.

Selain itu, industri yang ada juga harus mulai melakukan peningkatan kualitas baik dari sisi pelayanan yang lebih baik, kecepatan, hingga sisi ekonomis.

"Tiga hal itu bagaimana caranya melayani lebih cepat, pelayanan lebih berkualitas, dan harga yang diberikan lebih murah. Itu yang harus diperbaiki perusahaan," ujarnya.

Langkah-langkah tersebut, kata Hanif, tentu memiliki konsekuensinya. Industri yang dituntut agar bisa lebih efisien, biasanya akan berdampak pada pemangkasan jumlah pekerjanya. Kendati begitu, Hanif mengatakan, PHK tak perlu dilakukan.

"Misal konsekuensinya dari 100 karyawan, 10 orang yang bisa stay (tinggal) dan 90 orang harus out (keluar) dari proses bisnis. Yang 10 orang ini enggak bisa asal stay tapi harus di up skilling (peningkatan kemampuan). Sedangkan yang 90 lainnya mungkin dipindahkan ke unit lain," terangnya.

Hal itu, kata Hanif, mulai diterapkan di Singapura. Ketika melakukan pemangkasan, perusahaan di Singapura juga kemudian membina pekerjanya agar memiliki kemampuan yang lebih baik.

"Di Singapura begitu ritelnya terhantam, karyawan yang dipertahankan di-upgrading skill, tidak hanya senyum selamat datang. Tapi juga diwajibkan bisa memasarkan produk. Sedang yang dipangkas dipindah ke unit lain," papar Hanif. kbc10

Bagikan artikel ini: