Tak hanya pilkada, faktor ini bisa pengaruhi perekonomian RI di 2018

Selasa, 19 Desember 2017 | 10:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pada tahun 2018 mendatang sebanyak 171 daerah di Tanah Air menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Kondisi ini diprediksi akan mempengaruhi perekonomian nasional.

Namun demikian pesta demokrasi itu tidak menjadi satu-satunya hal yang perlu diwaspadai pemerintah. Sejumlah faktor eksternal juga perlu diwaspadai dampaknya terhadap perekonomian Indonesia di tahun depan.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada A Tony Prasetiantono mengatakan, kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mulai membaik juga perlu diwaspadai sebagai ancaman keluarnya modal dari dalam negeri atau capital outflow.

Terlebih lagi, adanya kemungkinan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat di tahun depan yang bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia.

"Masih banyak ketidakpastiannya misalnya situasi ekonomi Amerika Serikat yang membuat capital movement banyak bergerak ke Amerika negatif buat kita. Amerika Serikat mau naikkan suku bunga, suka atau tidak pasti ada pengaruhnya. Tahun depan tumbuh tapi tidak bisa lari, 5,3% (tahun depan), tahun ini kan maksimal 5,1% mungkin 5,08%," tutur Tony di Gedung Bappenas, Jakarta Pusat, Senin (18/12/2017).

Selain itu, pergerakan harga komoditas juga perlu diperhatikan dengan cermat. Naik turunnya harga komoditas sangat berpengaruh terhadap neraca perdagangan Indonesia yang sebagian besar bertumpu pada sektor ini.

"Yang penting balance-nya masih positif. Perdagangan surplus yang penting pertumbuhan ekonomi jangan turun," kata Tony.

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya dalam kesempatan yang sama menambahkan, kehadiran tahun politik ikut mendongkrak ekonomi hingga 0,3%. Akan tetapi, kehadiran pesta demokrasi serentak di 171 daerah tahun depan tidak perlu dianggap sebagai momok yang menakutkan karena diperkirakan berjalan sesuai koridor tanpa hambatan dan hal yang tidak diinginkan.

"Ada variabel yang berdiri sendiri, politik dianggap sebagai tontonan tersendiri, ekonomi memiliki logika tersendiri. Jadi mereka tidak perlu ada ketakutan berlebih," ujar Yunarto.

Hal yang perlu ditakutkan dan kemungkinan kecil terjadi adalah kerusuhan seperti saat krisis 1998 yang ikut memukul ekonomi. Kemungkinan ini pun diprediksi tidak akan terjadi di tahun depan. "Saya pikir Indonesia belum sampai kepada wilayah itu," ujar Yunarto.

Di 2018 mendatang, sektor konsumsi yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bisa tumbuh sedikit lebih baik hingga ke level 5% dari kuartal III-2017 sebesar 4,93%.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, konsumsi non rumah tangga yang berhubungan langsung dengan perangkat kampanye bisa mendongkrak sektor konsumsi. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga di tahun depan juga bisa tumbuh lebih baik lagi dibandingkan tahun ini.

"Saya pikir konsumsi 5% bisa dicapai, sangat bisa. Syukur-syukur sedikit lebih karena ada kegiatan," ujar Bambang. kbc10

Bagikan artikel ini: