Tekan harga beras, Bulog Jatim gelar operasi pasar dengan harga Rp8.100/kg

Jum'at, 29 Desember 2017 | 20:22 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Timur gencar melakukan stabilisasi harga pangan, utamanya beras. Hal ini sesuai dengan instruksi dari Menteri Perdagangan sebagai antisispasi terjadinya lonjakan harga saat perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kepala Perum Bulog Divre Jatim Muhammad Hasyim mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan stabilisasi harga beras sejak awal Desember 2017 sesuai dengan instruksi Mendag dengan harga beras medium Rp 8.100 per kilogram. Operasi Pasar (OP) dilakukan di seluruh pasar yang menjadi catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. Untuk Surabaya, dilakukan di lima pasar, yaitu pasar Wonokromo, pasar Pucang, pasar Tambahrejo, pasar Genteng dan pasar Keputran.

“OP ini kami lakukan baik secara langsung oleh Satgas Bulog ataupun lewat pedagang. Karena sesuai arahan Mendag, Bulog bisa menjual ke distributor untuk melakukan penggelontoran hingga harga kembali pada posisi normal,” tegas Hasyim kepada wartawan saat ditemui di pasar Wonokromo Surabaya, Jumat (29/12/2017).

Saat ini, ujarnya, dari pantauan Bulog, harga beras di wilayah Surabaya memang dalam kondisi stabil. Tetapi di beberpaa daerah, harga yabg terbangun sudah berada diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Untuk jenis beras medium, HET yang ditetapkan mencapai Rp 9.450 per kilogram. Dan Bulog bertekat untuk menekan harga hingga dibawah HET.

“Kalau di Jatim rata-rata harga beras medium mencapai Rp 9.300 per kilogram hingga Rp 9.400 per kilogram. Kami menjualnya dengan harga Rp 8.100 per kilogram dengan harapan harga bisa ditekan hingga dibawah HET,” tambahnya.

Agar OP menjadi lebih efektif, sesuai koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diaperindag) Jatim, maka waktu pelaksanaan akan diperpanjang hingga tak terbatas. Selain itu, ia juga akan menambah titik jual di setiap pasar. Kalau biasanya hanya di satu titik, maka bisa dilaksanakan di dua hingga tiga titik di setiap pasar.

“Karena OP akan lebih efektif jika dilakukan secara terus menerus tanpa ada batas. Jika dibatasi dan stok menjadi berkurang, maka kemungkinan harga akan kembali bergejolak,” kata Hasyim.

Sementara itu, Kepala Pasar Wonokromo, M Kholik mengaku sangat mendukung upaya yang dilakukan Perum Bulog. Karena melalui langkan ini dan juga berkat adanya satgas pangan, maka tren harga komoditas pangan di pasar Wonokromo cenderung stabil dan tidak ada gejolak.

“Hanya telur yang mengalami lonjalan harga. Kalau normalnya harga sekitar Rp 18 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram, maka sekarang harga masih diposisi Rp 25 ribu per kilogram. Sebenarnya kami sudah berkoordinasi dengan Perum Bulog tetapi karena stok telur di Bulog tidak ada, maka tidak bisa melakukan OP telur. Kalau untuk komoditas beras di pasar Wonokromo sudah stabil, rata-rata yang untuk jenis medium sekitar Rp 9 ribu per kilogram,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: