Ida Rizal, 'ibunya' UKM yang sukses kenalkan batik Pamekasan hingga mancanegara (2)

Sabtu, 30 Desember 2017 | 23:32 WIB ET
Direktur PT Astra International Tbk Johannes Loman (kiri) bersama Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman (kanan) melihat hasil karya pengrajin batik Pamekasan Madura bersama pemilik Sila Boutique Ida Rizal. (humas Astra)
Direktur PT Astra International Tbk Johannes Loman (kiri) bersama Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman (kanan) melihat hasil karya pengrajin batik Pamekasan Madura bersama pemilik Sila Boutique Ida Rizal. (humas Astra)

Ada ikatan batin dengan Astra

Ida Rizal patut berterima kasih kepada Astra Group, karena melalui peluang yang diberikan oleh Yayasan Dana Bhakti Astra (YDBA), dia dan produknya kian dikenal buyer di berbagai negara.

Bisa dibilang proses 'perkenalan' dia dengan Astra cukup cepat, karena baru sehari dia memasukkan pendaftaran ke YDBA, langsung direspon dan dikirim pada ajang Trade Expo International tahun 2015.

"Bagi saya adalah ini pengalaman luar biasa karena ajang itu menampilkan UKM-UKM unggulan berkualitas ekspor. Alhamdulillah juga karena kami mendapat apresiasi dari 38 duta besar dan atase perdagangan dari berbagai negara," ulas Non Sila.

Dia bersyukur bisa menguasai bahasa Inggris, Arab, dan sedikit bahasa Mandarin, sehingga sangat membantu berkomunikasi dengan buyer. "Di ajang itu sekitar 24 buyer dari luar negeri menyatakan minatnya kepada produk batik kami. Bahkan mereka antusias untuk bisa mengunjungi workshop Batik Sila di Pamekasan," ungkap Non Sila.

Namun untuk bisa sampai pada eksekusi transaksi jual beli di pasar internasional diakuinya memang tidak semudah melakukan jual beli di dalam negeri. Harus melalui berbagai tahapan. Nah, hal-hal semacam itu juga dibahas dalam business matching pada even tersebut.

"Dari sini ada sebuah pembelajaran, bahwa UKM bisa naik kelas dan produknya bisa diterima pasar internasional dengan melengkapi diri atau usahanya dengan dokumen-dokumen ekspor, dan ini bisa dilakukan dengan berafiliasi dengan pihak terkait, baik instansi pemerintah maupun swasta, seperti Astra," jelasnya.

Bagi dia, yang membedakan Astra dengan perusahaan lain yang juga memiliki mitra binaan UKM adalah, dimana Astra bukan sekadar membimbing, namun juga mendampingi UKM yang dibinanya mulai awal sampai pada tahapan yang diinginkan.

"Astra itu memberi sesuai kebutuhan apa yang diinginkan UKM. Misalnya training soal foto produk, digital marketing, dan sebagainya. Jadi pembinaannya dua arah, dimana kita diberi keleluasaan untuk mengusulkan, sehingga tepat sasaran," tutur Non Sila.

Namun demikian, diakuinya jika masing-masing pihak baik UKM maupun pihak Astra harus sama-sama menyupport, sehingga saling mendukung tujuan atau hasil akhirnya. "Misalnya Sila Batik memprakarsai pelatihan terkait digital marketing terhadap 300 perajin batik di Pamekasan, dan ini bergulir kemanfaatannya," jelas Non Sila.

Diakuinya, hubungan UKM dengan Astra tidak sekadar hubungan antara perusahaan dengan mitra binaannya, namun sudah menjadi sebuah keluarga. Dia mencontohkan bagaimana jajaran direksi Astra International rela menyempatkan diri datang ke Pamekasan untuk melihat dari dekat proses produksi batik.

Atau juga ketika dia datang ke kantor YDBA Jawa Timur di Waru Sidoarjo, selalu disambut dengan sikap kekeluargaan oleh para petugas.

"Kadang kami diundang untuk dimintai masukan terkait program pembinaan bagi UKM. Jadi kita itu diperlakukan seperti anak dan ayahnya.

Dia bahkan bangga saat batik buatannya yang sengaja dipersembahkan untuk perayaan 60 Tahun Astra dengan motif 'Binaran Cahaya' dibeli pihak YDBA sebagai cinderamata buat Menteri Sosial dan Menteri Koperasi & UKM.

Tak hanya itu, berkat dukungan Astra pula dia sering mendapat kesempatan mengikuti pameran baik skala nasional maupun internasional.

Bahkan Batik Sila juga menjadi salah satu dari 15 batik Indonesia yang digandeng disainer kondang Oscar Lawalata pada ajang Paris Fashion Week.

Kombinasikan perusahaan dengan UKM binaan

Kepedulian Non Sila untuk mengangkat UKM-UKM di wilayahnya perlu diacungi jempol. Dia yang notabene dipercaya sebagai koordinator UKM, mengkolaborasikan perusahaan-perusahaan yang selama ini menjadi mitra untuk bersama-sama membina UKM.

"Keunggulan-keunggulan dari masing-masing instansi ini kami kolaborasikan. Seperti Astra yang unggul di bidang pembinaan SDM dan jejaring, Bank Mandiri terkait permodalan, sementara PT Telkom di bidang digital," ungkapnya.

Di luar itu, jauh sebelumnya Non Sila juga telah dipercaya Perpustakaan Daerah (Perpusda) sebagai konsultan ahli bidang UKM dan pemberdayaan anak-anak serta perempuan. Saat ini ada sebanyak 700 perajin batik binaannya, selain juga sekitar 300 UKM di luar batik.

Sebagai koordinator, tentu dia juga tidak mau berpangku tangan. Non SIla berusaha untuk aktif dan memberi masukan atau usulan kepada perusahaan mitranya. "Yang namanya kerja sama itu ya sama-sama kerja. Jadi kita harus aktif, ikut seminar dan menularkan ilmu itu ke UKM-UKM. Selama ini image UKM itu hanya menunggu, tapi kita harus cari peluang dan meng-created hal baru. Karena perusahaan yang menjadi mitra kita juga butuh ada ide-ide segar dari kita," ulasnya.

Berpikir out of the box

Batik Indonesia memang telah diakui dunia. Namun tanpa ada upaya untuk terus memperkenalkan dan menyosialisasikan jika ada misi sosial yang cukup besar yang terkandung di dalamnya, tentu lama kelamaan budaya ini akan dilupakan.

Bagi Non Sila, ada banyak hal yang bisa diangkat yang bukan hanya sebuah kain batik. Selain sisi sosial dimana pengerjaan batik melibatkan pekerja dari kalangan ibu-ibu rumah tangga yang ingin memperjuangkan kesejahteraan keluarga, atau anak-anak putus sekolah, namun ada juga sisi lingkungan.

"Seperti motto saya yakni more than just batik wear. Dimana bayak yang terkandung dan bisa diangkat dari sebuah batik. Jadi kita musti berpikir out of the box," ungkapnya.

Salah satunya adalah memanfaatkan kain perca batik yang selama ini terbuang, untuk dijadikan sebuah produk yang memiliki nilai tinggi. Jangan heran jika Sila Batik juga menghasilkan produk turunan, seperti pelengkap dekorasi rumah, kantor, hingga tas, sepatu, cover jok untuk mobil yang dibuat dari perca batik.

Menariknya, produk-produk ini justru sangat diminati buyer asing. Karena rata-rata pembeli asing sangat mempertimbangkan sisi sosial dan lingkungan terhadap sebuah produk. Mulai dari pemberdayaan tenaga kerja, bahan, cara membuat dan sebagainya.

"Ketika kita jelaskan bahwa ini dari bahan recycle, juga pewarnaan alami, dan melibatkan UKM-UKM ibu-ibu kalangan bawah, mereka antusias. Efeknya, jika produk yang dibuatnya laku, pasti UKM-UKM ini akan semangat," ujarnya.

Ditambahkan Non Sila, hal-hal semacam ini yang musti terus dilakukan, guna menumbuhkan spirit entrepreneur yang bermanfaat bagi banyak orang. "UKM juga harus bisa menunjukkan bahwa dia mampu membantu UKM lain. Jadi jangan hanya selalu tangan di bawah, tapi harus ada semangat untuk mengubah menjadi tangan di atas," tuturnya.

Manfaatkan digital

Non Sila tak hanya peduli dan jeli melihat dunia, yang menjadi kunci suksesnya dalam mengembangkan batik Pamekasan. Berkembangnya teknologi informasi juga tidak bisa dia elakkan.

Buktinya, guna mengoptimalkan pemasaran batik, Non Sila memanfaatkan sarana teknologi informasi dan komunikasi. "Jika produk saya hanya mengandalkan pemasaran secara konvensional, sudah bisa dipastikan produk ini tidak dikenal seluas ini," tuturnya.

Pengalamannya sebagai praktisi di bidang advertising and production house camera work Kuala Lumpur serta broadcasting di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Surabaya kian memudahkannya mengembangkan produk batik yang dikelolanya. Dengan digital dan internet marketing yang dikelolanya, produknya bisa diakses secara online dan dikenal masyarakat luas.

Bagi Non Sila, jika sebuah produk atau kreativitas disentuh dengan teknologi komunikasi, maka semuanya akan menjadi mudah. "Kita tidak perlu berkecil hati meski tinggal di daerah terpencil. Jika produk itu memang berkualitas dan pelayanannya prima atau bagus, maka di mana pun lokasinya pasti akan dicari konsumen," jelasnya.

Upayanya dalam mengenalkan secara luas batik Pamekasan melalui internet marketing itu pula yang membawa Non Sila meraih penghargaan sebagai Young Woman Entrepreneurship dari Bill & Melinda Gate Foundation untuk kategori pengusaha muda wanita dengan small entrepreneur digital compaign awareness terbaik pada 2014.

Selain itu, upaya yang dilakukannya juga dalam rangka melestarikan dan menyelamatkan khasanah budaya bangsa berupa batik, agar generasi penerus bangsa bisa bangga dan berjaya dengan batik.

"Insya Allah cita-cita itu tidak mustahil," ujarnya. kbc7

Aktivitas:

  • Owner Sila Batik Boutique Pamekasan
  • Koordinator UKM binaan Astra seluruh Indonesia
  • Koordinator UKM binaan PT Telkom (Persero)
  • Konsultan ahli bidang UKM dan pemberdayaan anak-anak serta perempuan khusus Ministry Bill and Melinda Gates Foundation (di bawah naungan Perpusda).

Prestasi:

  • Young Woman Entrepreneurship dari Bill & Melinda Gates Foundation  untuk katagori pengusaha muda wanita dengan small enterprenuer digital campaign awareness terbaik 2014
  • Young Woman Entrepreneurship Progressive dari The COCA COLA Foundation 2015
  • UKM Unggulan Berstandar Ekspor dari Gubenur Jatim , 2017
  • UKM Mitra Binaan Telkom Terbaik Hasil Kurasi dan Seleksi di Bali sehingga terpilih sebagai Peserta Telkom Craft, Maret 2017
  • UKM Mitra Binaan ASTRA dikirim sebagai Peserta Pameran Produk UKM Unggulan Berkualitas Ekspor di ajang TRADE EXPO INTERNATIONAL JI-EXPO Kemayoran Jakarta tahun 2015
  • Pemenang Fashion Show Busana Etnik Nusantara kategori Batik Tulis dengan Design Motif Pesisir Utara Madura di ajang Pameran Produk UKM Program Binaan PKBL Perusahaan Swasta, Semarang 2016
  • Juara 1 & 3 Fashion Show Batik Fashion di ajang Pameran Produk UKM Unggulan Jatim di Grand City Surabaya, 2016
  • Peserta Pameran Surabaya Sparkling Tourism Fiesta di Pelindo III, 2016
  • Penghargaan dari MENPORA sebagai pengusaha muda kreatif untuk kategori Pemberdayaan Pemuda & Pengusaha Kreatif tahun 2017
  • UKM Berstandar Ekspor dengan Hak Merek serta Batik Mark 2016-2018.

Bagikan artikel ini: