2018, Bulog perbesar asumsi pengadaan beras komersial hingga 2,7 juta ton

Rabu, 03 Januari 2018 | 17:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum Bulog pengadaan beras tahun 2018 sebesar 2,7 juta ton yang diarahkan kepada mekanisme pembelian komersial. Dari target tersebut , perusahaan akan menaikkan porsi pengadaan berbentuk gabah lebih dari tiga kali lipat atau setara 270.000 ton.

Kendati pada sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) malah meminta Bulog untuk menaikkan serapan gabah tahun 2018 hingga 3,8 juta ton. "Itu (target pengadaan beras dari Kementerian Pertanian red)  kita anggap saja sebagai tantangan,” ujar Direktur Bulog Andrianto Wahyu Adi bernada diplomasi disela Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan di Jakarta, Selasa (3/1/2018).

Asumsi target pengadaan beras yang mayoritas diarahkan pada mekanisme pembelian komersial ini mengalami perubahan drastis dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) .Sebelumnya, Direktur SDM dan Umum Bulog Febrianto mengatakan, perusahaan menetapkan pengadaan beras komersial sebesar 1 juta ton.

Target pengadaan beras tahun ini mengalami penyusutan dibandingkan rencana kerja perusahaan tahun 2017 yang ditetapkan 3,7 juta ton. Hanya saja, target pengadaan beras sebesar itu menggunakan mekanisme public service obligation (PSO).

Menurut  Andrianto penurunan target  serapan beras petani ini menyesuaikan perubahan skema bantuan dari program beras sejahtera (rasta) menjadi natura atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Konsekuensinya  pengadaan beras sebagian besar dilakukan melakukan mekanisme komersial bukan lagi  mekanisme PSO.

Untuk itu, sejumlah sejumlah strategi akan dilakukan Bulog untuk menyerap beras petani. Diantaranya ,Bulog akan memperbesar pengadaan dalam bentuk gabah yang tadinya hanya sebesar 3 % akan dinaikkan lebih dari tiga lipat yakni menjadi 10 % dari total pengadaan. Dengan strategi ini dimaksudkan  Bulog akan berhubungan langsung dengan petani.Slain itu akan memudahkan Bulog untuk memilah apakah gabah tersebut akan dijadikan kualitas medium atau premium.

“Kami akan mencoba melakukan memperbesar pengadaan gabah dari petani. Karena itu kita akan lebih mendekatkan kepada petani dengan membentuk satuan kerja (satker) . Dengan raw model sepertihalnya agen asuransi. Bulog harus mempunyai daftar nama yang harus didekati,”terang Andrianto

Selain itu, Bulog juga akan fokus perhatian dalam unit value change seperti pengepul dan penebas yang bekerja sama dengan petani. Belum cukup disitu, pihaknya juga akan bekerjasama dengan unit usaha jasa penggeringan gabah.Pasalnya sarana yang dimiliki Bulog dinilai belum mencukupi .

Sejalan perubahan kultur pengadaan Bulog tersebut, menurut Andrianto standar kualitas dan mutu beras yang akan diserap akan menjadi prasyarat utama. Misalnya  beras medium maka ketentuan kadar air, menir dan broken harus benar-benar diseleksi alur pemasukannya. Melalui cara itu, akan menutup kemungkinan komplain kualitas beras Bulog yang dianggap buruk.

Karena melalui mekanisme komersial, maka sangat memungkinkan bagi Bulog membeli diatas harga pokok pembelian (HPP) seperti Inpres No 5 tahun 2015.“Kami akan melihat pada harga pasar. Tapi kami juga akan menggiring beras tersebut supaya sesuai dengan prediksi harga beras selama dua-tiga bulan ke depan. Kami berusaha membawa harga yang lebih menguntungkan kepada petani,”ujarnya.

Disinggung kualitas beras di musim rendeng akan menghasilkan beras dengan kadar air tinggi diluar standar HPP , Andrianto menegaskan Bulog akan menunggu penugasan dari pemerintah. Sebelum regulasi tersebut dirilis, Bulog akan berasumsi kerangka kerja pengadaan melalui skema pembelian komersial. kbc11

Bagikan artikel ini: