Arab Saudi pungut PPN 5%, pengelola umrah diimbau tak seenaknya naikkan harga

Jum'at, 05 Januari 2018 | 11:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Diterapkannya pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 5% oleh pemerintah Arab Saudi mulai 1 Januari 2018 bakal berimbas pada kenaikan harga paket umrah.

Meski demikian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) tidak asal menaikkan biaya umrah dan lebih cermat menghitung atau menyesuaikan biaya operasional.

“Travel umrah harus cermat menghitung setiap komponen pos pembiayaan. Kalaulah terpaksa harus menaikan, maka kenaikan itu harus rasional,” kata Lukman seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Kamis (4/1/2018).

Dia mengingatkan PPIU untuk tidak mengambil keuntungan dengan adanya potensi kenaikan akibat penerapan pajak 5% oleh Saudi. “Jangan sampai menaikan harga lalu berdalih kenaikan karena pajak lima persen, tapi sesungguhnya untuk travel. Saya pikir hal seperti ini harus dihindari,” ujarnya.

Kepada jemaah umrah, Menag mengimbau untuk bersikap kritis dalam memilih PPIU. Selain memastikan travelnya berizin dan terpercaya, sikap kritis diperlukan terkait paket harga yang ditawarkan.

“Kalaulah terjadi kenaikan harga, maka kenaikan itu memang bisa dimaklumi. Bukan kenaikan yang tidak terkontrol,” sambungnya.

Menurutnya Kementerian Agama saat ini tengah membenahi mekanisme dan proses penyelenggaraan umrah. Pihaknya tengah menyiapkan sejumlah regulasi, salah satunya yang mengatur harga referensi dan batas minimal layanan biro travel.

Harga referensi itu nantinya menjadi acuan bagi PPIU dalam menetapkan biaya perjalanannya masing-masing.

“Kita ingin semua mengacu pada harga referensi dan itu kita buat pada batas pelayanan minimal yang harus diberikan biro travel,” lanjutnya.

Selain regulasi, Kemenag juga sedang membangun Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (SIPATUH). Melalui sistem online ini, pihaknya akan memonitor proses layanan PPIU, sejak dari pemberangkatan, layanan transportasi, akomodasi, dan konsumsi yang diberikan, sampai jemaah umrah kembali ke Tanah Air.

“Semuanya itu kita satukan manajemennya dalam satu sistem berbasis aplikasi elektronik, SIPATUH,” tegas Lukman. kbc10

Bagikan artikel ini: