Hadirnya pengembang global di pasar properti Australia, Iwan Sunito: Ibarat David vs Goliath

Senin, 08 Januari 2018 | 22:41 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketatnya persaingan di pasar properti Australia seiring kian maraknya kehadiran pengembang global dikhawatirka kian membuat para pemain lokal tersisih.

Group CEO dan Komisaris Crown Group, Iwan Sunito mengakui, pasar properti Australia, khususnya di Sydney, belakangan mendapatkan serbuan dari perusahaan properti global yang memiliki kemampuan modal yang fantastis.

“Perusahaan pengembang lokal saat ini menghadapi masalah dengan keterbatasan sumber dana pada umumnya, yaitu dari sektor perbankan. “Sementara perusahaan global yang masuk ke pasar memiliki modal yang jauh lebih besar, ditambah dengan harga tanah yang semakin melambung, meskipun kemampuan daya beli pasar masih kuat," kata Iwan Sunito melalui keterangan persnya, Senin (9/1/2018).

Dia mencontohkan, harga lahan di kawasan green square yang dahulu senilai Rp. 500 miliar, sekarang menjadi sekitar Rp. 1 – 1,5 triliun jika dibandingkan dengan 3 atau 4 tahun yang lalu. Sementara pada saat yang bersamaan, perbankan semakin memperkecil pinjaman kepada perusahaan pengembang lokal.

“Yang biasanya mereka memberikan pinjaman sebesar Rp 2 triliun – 3 triliun untuk 1 kali pinjaman, saat ini hanya sekitar Rp. 1 triliun," tukasnya.

“Yang terjadi adalah, nilai skala proyek semakin membesar, sementara jumlah dana yang bisa didapatkan semakin mengecil," imbuhnya.

Iwan Sunito bilang, di satu sisi dapat dimengerti bahwa pihak perbankan menjadi lebih berhati-hati, namun di sisi lain kondisi ini meningkatkan kompleksitas yang terjadi dimana harga tanah semakin melambung selama proses perijinan berjalan, sementara para pengembang lokal harus mencari pinjaman ke dua atau tiga bank untuk memenuhi kebutuhan pendanaan mereka.

“Hal ini lah yang mengakibatkan supply hunian di Sydney tidak bisa memenuhi jumlah permintaan yang ada dikarenakan banyak sekali pengembang skala menengah ke bawah yang kesulitan mendapatkan pendanaan," tandas Iwan Sunito.

Sementara, ucap dia, hal tersebut tidak berpengaruh kepada perusahaan pengembang global yang memiliki akses pendanaan dari luar Australia.

“Seperti halnya Crown Group yang juga memiliki akses kepada institusi pendaaan global, sehingga kami tidak tergantung kepada institusi pendanaan lokal," ujarnya.

Menurut Iwan, kondisi yang dihadapi oleh para pengembang lokal dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan pengembang global saat ini dapat diartikan seperti David vs Goliath.

“Alasan mereka masuk ke pasar properti Australia lebih dikarenakan pertumbuhan dalam negeri mereka yang sudah terbatas. Mereka memiliki level berbeda dengan perusahaan pengembang lokal Australia dimana mereka memiliki sumber dana dan sumber daya yang lebih besar," ujar Iwan.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat segala sesuatunya semakin kompleks karena kita mengalami kondisi persaingan yang tidak seimbang.

Pertanyaannya bagaimana caranya untuk bisa berkompetisi dengan para raksasa tersebut?

“Seperti halnya David dan Goliath, it’s not the big that would beat the small, it’s the fast that would beat the slow. Kita harus lebih gesit, lebih merespon pasar dan lebih mengerti pasar. Karena bagaimanapun para pengembang lokal yang lebih mengerti pasar jika dibandingkan dengan para pemain global tersebut," tutur Iwan.

Diakuinya, memang mereka memiliki dana yang tidak terbatas, namun mereka juga tidak memiliki pemahaman yang mendalam terhadap pasar lokal, mereka juga lebih lambat dalam memubuat keputusan meskipun di satu sisi mereka juga memiliki kemampuan untuk  mendorong harga secara signifikan.

“Kalau kita tidak gesit dan cepat, akan sulit untuk bersaing dengan mereka," tukasnya.

Sementara untuk Crown Group sendir, pihaknya memposisikan diri sebagai The Best of The Best di pasar. Hal ini didasarkan pada kesuksesan peluncuran produknya dalam 3 tahun terakhir telah membuktikan kualitas perusahaan.

“Dan saya melihat, kesuksesan tersebut bisa diraih dikarenakan kekuatan dari brand kami dan loyalitas konsumen kami serta kualitas bangunan yang kami kerjakan selama ini. Sesuatu yang saya kira belum dimiliki oleh para pemain global tersebut di pasar Australia," klaimnya.

Namun demikian, pihaknya juga berharap pemerintah setempat juga ikut berperan aktif dalam membuat regulasi yang mendukung perusahaan lokal dibandingkan berbagai macam pembatasan.

“I don’t really believe in a lot of red tapes, I think we need a lot of more red carpets," tukasnya.

Menurutnya, jika ada pembatasan, they always find a way to go somewhere through the back door. Dengan banyaknya pembatasan yang diterapkan, contohnya dalam hal pembiayaan dan penjualan hunian ke orang asing, dimana hal ini sangat berdampak kepada perusahaan pengembang lokal.

“Adalah hal yang baik jika kita mampu mendorong semakin banyak pengembang baik asing maupun lokal untuk bermain di pasar properti Australia dan  tentu saja kita harus welcome dengan kehadiran para pemain global tersebut, namun juga jangan dilupakan dukungan yang diberikan pemerintah terhadap perusahaan lokal," kata Iwan.

Ditegaskannya, daripada terus mengkhawatirkan bahwa pasar sedang slowing down, yang pada kenyataannya pasar tidak mengalami perlambatan dan terus mengalami peningkatan. "Memang bukan pertumbuhan 2 digit, melainkan 1 digit, namun menurut saya ini adalah hal yang sehat. Karena menunjukan betapa pasar terus bertumbuh dari tahun ke tahun,” tutup Iwan Sunito. kbc7

Bagikan artikel ini: