Bupati Anas dan Kades kerja cepat pacu program Smart Kampung

Selasa, 09 Januari 2018 | 07:07 WIB ET

BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terus memastikan program Smart Kampung berjalan dengan baik di semua desa di Banyuwangi. Anas meyakini lewat program ini semua desa bisa memberikan pelayanan publik yang terbaik bagi warganya.

Ini disampaikan Anas saat evaluasi dan konsolidasi Smart Kampung bersama seluruh Kepala Desa se-Banyuwangi di Balai Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Senin (8/1/2018).

“Dari 217 desa/kelurahan di Banyuwangi, ada yang program Smart Kampung-nya sudah berjalan dengan baik namun masih ada yang belum maksimal juga. Saya berharap semua kades bisa melakukan langkah-langkah terukur untuk memaksimalkan program Smart Kampung di desanya masing-masing,” kata Anas.

Pemkab Banyuwangi telah mengevaluasi pelaksanaan Smart Kampung. Hasilnya, ada 95 desa (44%) berada pada tahap kategori “maju” untuk pelaksanaan Smart Kampung, 98 desa (45%) tahap “berkembang”, dan sisanya 24 desa (11%) dalam tahap “kurang”.

“Ini masih sisa 11%, harus bisa ya yang kategori kurang ini naik jadi kategori berkembang. Kita gotong royong bersama kembangkan ini,” kata Anas di hadapan para kades.

Anas menjelaskan, Smart Kampung adalah program pengembangan desa dari berbagai sektor dengan bantuan teknologi informasi (TI). Ada tujuh kriteria ”Smart Kampung”, yaitu pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, pengembangan pendidikan dan seni-budaya, peningkatan SDM, pengentasan kemiskinan, dan melek informasi hukum. “Semua itu ditopang TI,” jelas Anas.

“Kriteria desa yang maju Smart Kampung-nya apabila ketujuh indikator tersebut dipenuhi dengan maksimal,” imbuh Anas.

Lewat program Smart Kampung, sejumlah pelayanan publik bisa dilakukan cukup di level desa. Misalnya pengurusan Surat Pernyataan Miskin (SPM) untuk akses pelayanan kesehatan yang dulunya warga mengurus hingga ke kantor kabupaten, kini cukup diurus di desa saja. Proses surat keterangan yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini lebih singkat hanya beberapa jam saja. Selain itu, kantor-kantor desa menjadi pusat beragam aktivitas publik, mulai dari kesenian hingga pendidikan.

”Smart Kampung ini juga media kami untuk memicu desa lebih kreatif. Kini di desa-desa telah banyak program inovatif, misalkan ambulans desa, warung untuk warga miskin, bedah rumah warga miskin yang dibiayai desa, hingga antusiasme desa untuk menggelar tradisi dan menggarap potensi desanya sebagai atraksi dan destinasi wisata,” kata Anas.

Ketua Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi (ASKAB) Agus Tarmizi mengatakan, terus mendukung program Smart Kampung dan meminta sejawatnya yang belum memaksimalkan program Samrt Kampung bisa mengejar ketertinggalannya.

“Smart Kampung ini bagi kita sangat membantu untuk memberikan pelayanan publik yang terbaik bagi warga. Warga-warga kami sudah merasakan manfaatnya. Bahkan sudah banyak desa yang membuka pelayanan malam hari,” ujar Agus.

Sementara itu, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Zen Kostolani menambahkan semua desa di Banyuwangi saat ini telah menerapkan Smart Kampung. Namun untuk 24 desa yang masih kurang di antaranya karena beberapa kendala seperti terbatasnya sambungan internet akibat belum teraliri fiber optik.  

“Targetnya tahun ini semua desa dialiri fiber optik,” pungkas Zen.

Bagikan artikel ini: