Jadi penyumbang inflasi di Jatim, kenaikan harga beras kian ditekan

Rabu, 10 Januari 2018 | 05:38 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur  Fattah Yasin prihatin atas kenaikan harga beras sepanjang 2017 lalu. Gejolak harga itu membawa inflasi Jatim bergerak lebih tinggi di atas angka inflasi nasional pada 2017 lalu.

“Ini sebuah ironi mengingat Jatim adalah lumbung padi nasional dengan produksi 8 juta ton, sedangkan konsumsi beras hanya 4 juta ton per tahun. Sehingga masih ada surplus senesar 4 juta ton yang disebarkan di seluruh wilayah di Indonesia,” ujar Fatah Yasin saat hadir dalam pelepasan beras untuk operasi pasar di Gudang Bulog Surabaya Utara di Buduran Sidoarjo, Selasa (9/1/2018).

Data Badan Pusat Statistik memunjukkan, inflasi Jatim sepanjang 2017 mencapai 4,04 persen, sementara nasional 3,6 persen. Padahal sebelumnya inflasi Jatim tidak pernah di atas nasional. Salah satu penyebabnya adalah tingginya harga beras. Padahal Jatim adalah gudang pangan, lumbung padi nasional. Untuk itu, ia sangat mendukung operasi pasar yang dilakukan Bulog Divre Jawa Timur. Apalagi, Bulog Divre Jatim tidak membatasi jumlah beras yang akan digelontorkan ke pasar.

Kepala Divre Bulog Jatim, Muhammad Hasyim mengakui operasi pasar ini memang perpanjangan dari yang sudah dilakukan Desember 2017 lalu. Di mana Kementerian Perdagangan memerintahkan menggelar operasi pasar hingga akhir Januari 2018. Namun karena di pasaran masih ditemui harga beras yang melebihi harga eceran tertinggi (HET) khususnya beras medium yakni Rp 9.450 per kilogram, maka operasi pasar diperpanjang hingga akhir Maret 2018 mendatang.

“Dalam operasi pasar kali ini, beras yang kami gelontorkan berbeda dari sebelumnya. Kalau sebelumnya harga Rp 8.100 jenisnya berbeda. Ini harga Rp 9.350 per kilogram masih di bawah HET dengan jenis medium yang kualitas lebih bagus. Kualitas yang kita gelontorkan itu sama dengan yang dijual bebas di pasaran. Di pasaran harganya bisa 10 persen di atas HET hingga Rp 11 ribu per kilogram,” jelas Muhammad Hasyim.

Seperti pada operasi pasar sebelumnya, Bulog akan menyiapkan berapapun kebutuhan pasar. Bahkan operasi pasar ini serentak dilakukan di seluruh pasar di kabupaten/kota di Jatim. “Tidak hanya di Jatim tapi di seluruh Indonesia. Kalau di Jatim kita sasar semua pasar, bahkan ke seluruh perkampungan, perumahan dan RT RW. Bahkan, kita juga membuka kesempatan bagi pedagang dan distributor beras yang mau menjual beras bulog monggo, silahkan hubungi kita,” tandas Hasyim.

Sementara itu, Staf Ahli Kemendag, Suhanto mengatakan pihaknya sudah keliling di psar-pasar di Surabaya dan sekitarnya untuk melihat pergerakan harga beras ini. “Memang di beberapa pasar harganya cukup tinggi di atas HET. Kita harus antisipasi ini,” tukasnya.

Menurut pantauannya, sebenarnya beras di pasaran cukup tersedia. Namun kebanyakan adalah beras premium dengan harga mahal. Dan tugas pemerintah mengisi beras medium sehingga tidak sulit didapat warga sehingga warga akan beralih mengonsumsi beras premium. 

"Memang saat ini masyarakat banyak yang menyukai beras premium. Namun, Bulog bersama Satgas Pangan serta Kemendag terus waspada untuk mengawasi agar jangan sampai beras medium Bulog ini disalahgunakan oknum-oknum dengan memoles beras Bulog kemudian dijual dengan harga setara premium,” pungkasnya. kbc6

Bagikan artikel ini: