Defisit neraca beras dikhawatirkan berlangsung hingga Maret

Kamis, 11 Januari 2018 | 07:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Neraca pasokan beras dikhawatirkan terus berlangsung hingga Maret 2018 mendatang. Bukan tidak mungkin,rerata harga beras medium diperkirakan akan menembus Rp 12.000 per kilogram (kg) karena konsumsi masyarakat tidak mungkin dapat diredam.

Demikian Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Prof  Dwi Andreas kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Dwi meragukan prediksi Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyatakan bulan Februari 2018 sudah mulai memasuki panen raya . Pusat Data Informasi dan Statistik Kementerian Pertanian menyebutkan luas panen bulan Januari 2018 sebesar 979.656 hektare (ha) akan menghasilkan 5.890.666 juta ton gabah kering giling (GKG).

Namun, menurut Dwi prediksi luas panen dan panen tersebut menjadi anomali. Pasalnya, Kementan sendiri juga mengakui luas tanam padi bulan Oktober- Desember 2017 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya merosot 413.727 hektare (ha) .

Selain itu Dwi mengingatkan dari total areal tanam padi seluas 8,1 juta ha, hanya sawah irigasi teknis seluas 4,4 juta ha. Sementara 3,7 juta ha merupakan sawah tadah hujan.

Sulit menafikan faktor mundurnya musim tanam adalah kurangnya pasokan air yang menyebabkan umumnya petani baru menanam padi pada November - Desember.Karena dilahan yang sama, lazimnya petani terlebih dahulu menanam jagung.

Sementara apabila disuatu daerah sudah berlangsung di Desember 2017 Januari 2018 maka baru bersifat spot atau terbatas. Dengan asumsi masa tanam 90-100 hari, maka panen raya baru berlangsung pada Maret-April mendatang 2018.

"Panen raya pada Februari akan sulit diharapkan karena mundurnya musim tanam .Beras baru akan tersedia memadai pada April karena harus digiling dan terdistribusi sampai ke masyarakat. Jadi bulan Januari sampai Maret ini merupakan masa gawat," tegasnya.

Konsumsi beras masyarakat sebesar 2,6 juta ton per bulan harus tersedia setiap saat di pasar. Defisitnya neraca beras ia juga peroleh dari gambaran setelah mengunjungi sejumlah kota kecil di Indonesia."Masyarakat mengeluh karena  biasanya membeli beras Rp 8.000 an per kilogram,kini harus membelinya seharga Rp 11.000 per kilogram," ujar dia.

Dwi menepis apabila gejolak harga beras saat ini disebabkan penimbunan gabah. Justru upaya satgas pangan membuat takut pengusaha dan petani penggilingan padi tidak lagi melakukan manajemen stok beras. "Jadi murni pasokan beras dari petani kurang," terangnya.

Ketua Persatuan Pedagang dan Penggilingan Padi (Perpadi) Nellys Sukidi mengakui mahalnya harga beras diatas Rp 10.000 per kg sulit dihindari. Pasalnya pengusaha membeli gabah dari petani pun sudah mahal, yakni Rp 5.500 -Rp 6.000 per kg.

Nellys juga menduga hingga Februari pengusaha penggilingan masih kesulutan memperoleh gabah dengan harga murah karena  hasil panen belum melimpah. Selain itu ketersediaannya belum merata sama terjadi disetiap daerah.

Nellys pun menunjuk defisitnya neraca beras salah satunya dapat ditilik dari stok beras PT Food Station. Pada Selasa (9/1/2018) jumlah pemasukan beras dari daerah sebesar 3.539 ton.

Sementara jumlah pengeluaran beras lebih besar yakni 4.103 ton. Hingga stok akhir beras BUMD tersebut mencapai 32.035 ton.

Atas hal tersebut, Dwi berharap kenaikan harga beras konsumsi tidak akan terus berlangsung hingga menembus  Rp 12.000 per kg.Dia meminta Perum Bulog segera menyalurkan program beras masyarakat sejahtera (rasta).

Dengan kuantum diatas 100.000 ton per bulan kepada penerima manfaat yang tentunya akan membantu operasi pasar beras medium yang Januari digelontorkan sebesar 37.908 ton. Pasalnya 17,9 juta dari jumlah miskin tinggal di desa yang notabene merupakan petani juga sangat terpukul dengan tingginya harga beras.kbc11

Bagikan artikel ini: