Government shutdown di Amerika diyakini tak berdampak ke ekonomi RI

Senin, 22 Januari 2018 | 07:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) meyakini government shutdown di Amerika Serikat (AS) tidak banyak berdampak terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menyebutkan, struktur ekspor Indonesia yang semakin terdiversifikasi negara tujuan ekspornya telah memperkuat resiliensi ekspor terhadap goncangan eksternal.

"Government shutdown tidak berarti bahwa seluruh fungsi pemerintah AS akan berhenti, fungsi yang penting seperti keamanan nasional masih tetap berjalan," tegas Dody, Minggu (21/1/2018).

Selain itu, dia melihat tidak tertutup kemungkinan jika proses persetujuan anggaran berlarut maka akan menyebabkan semakin menurunnya fungsi pelayanan pemerintah federal.

Mengacu pada government shutdown AS yang terjadi sebelumnya, Dody mengungkapkan situasi ini cenderung bersifat temporer dengan dampak ke perekonomian maupun pasar keuangan diperkirakan kecil.

"Dampak dari government shutdown terhadap risiko penurunan growth AS pada triwulan I/ 2018 diperkirakan akan dikompensasi dengan growth AS pada triwulan berikutnya, apabila pada akhirnya tercapai kesepakatan anggaran," kata Dody.

Goldman Sachs memperkirakan dampak tersebut pada triwulan I/2018 hanya sebesar 0,06% (yoy) atau secara tahunan 2018 0,015% (yoy).

Di pasar keuangan, tambah Dody, aliran modal asing diperkirakan juga tidak akan terpengaruh. Pasalnya, prospek ekonomi Indonesia terus membaik dengan tingkat return yang masih kompetitif.

Namun, dia menuturkan BI akan tetap mewaspadai risiko eksternal yang dapat mempengaruhi kestabilan ekonomi makro.

"BI juga terus menyiapkan berbagai langkah antisipasi termasuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk meningkatkan resiliensi perekonomian Indonesia. BI juga akan senantiasa melakukan langkah stabilisasi nilai tukar jika diperlukan." kata Dody. kbc10

Bagikan artikel ini: