Red Hat rilis Red Hat OpenShift Application Runtimes

Rabu, 24 Januari 2018 | 18:07 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com:  Red Hat, Inc. penyedia solusi open source terkemuka di dunia, telah mengumumkan ketersediaan umum dari Red Hat OpenShift Application Runtimes. Red Hat OpenShift ini memungkinkan perusahaan untuk mempercepat pengembangan aplikasi cloud-native dengan serangkaian framework dan runtimes yang terpilih untuk secara preskriptif mengembangkan dan menjalankan aplikasi berbasis microservice.

Inti dari transformasi digital adalah kesempatan bagi perusahaan untuk menemukan kembali diri mereka agar lebih dapat bersaing di pasar yang ditandai oleh pesaing, komunitas, teknologi dan strategi bisnis baru. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan beradaptasi merupakan kunci untuk bertahan, dan solusi-solusi pengembangan cloud-native yang memanfaatkan konvergensi antara container Linux, pengelolaan API, arsitektur berbasis layanan, dan otomatisasi DevOps, sangat ideal untuk membantu perusahaan dalam merespons perubahan yang tidak dapat diprediksi dan melampaui para pesaing.

Vice President and General Manager, Middleware, Red Hat, Mike Piech, mengatakan, dunia baru arsitektur cloud-native yang containerized dan berbasis microservice memberdayakan perusahaan untuk berinovasi dengan cara yang lebih cepat dan fleksibel dibanding sebelumnya. Namun, melakukannya pada skala tertentu dengan kinerja, keandalan, dan keamanan yang lebih baik membutuhkan kekuatan runtimes kelas enterprise.

“Red Hat OpenShift Application Runtimes memanifestasikan pengalaman Red Hat selama lebih dari satu dekade dengan Red Hat JBoss Middleware dalam penawaran runtime baru ini yang dibangun sejak semula untuk pengembangan aplikasi berbasis microservice generasi mendatang,”katanya dalam siaran pers yang diterima kabarbisnis.com, Surabaya, Rabu (24/1/2018).

Dengan menyediakan suatu penawaran yang amat terpadu dan sepenuhnya didukung untuk mengembangkan microservice dalam berbagai bahasa dan framework, Red Hat bermaksud untuk menyeimbangkan kebutuhan pengembang akan pilihan dengan persyaratan operasional untuk standardisasi dan dukungan, baik untuk menciptakan aplikasi baru maupun untuk merancang ulang yang sudah ada.

Menurut sebuah survei terhadap pelanggan Red Hat pada bulan September 2017, sebagian besar responden (87%) mengindikasikan bahwa mereka menggunakan atau mempertimbangkan beberapa runtimes dan framework untuk mengembangkan microservice, di mana 44% menyebutkan preferensi untuk menggunakan tool yang tepat untuk tugas yang tepat.

Senior Vice President, Vizuri, Joe Dickman, menegaskan perusahaan yang menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk arsitektur cloud-native harus mulai memanfaatkan beban kerja containerized untuk menyediakan infrastruktur yang kuat, fleksibel dan andal yang dapat merespons perubahan kebutuhan pelanggan secara cepat. Red Hat OpenShift Application Runtimes menetapkan landasan bagi pengembangan layanan untuk aplikasi dan sistem hybrid dan multi-cloud dengan cara yang dapat diprogram yang menyediakan dan melakukan decommission sumber daya infrastruktur dan aplikasi di berbagai lingkungan dengan menggunakan tool pilihan mereka.

Group Vice President, Software Development and Open Source, IDC, Al Gillen, menilai, perusahaan yang berinvestasi pada DevOps, microservice, cloud, dan pengembangan aplikasi modern dapat memperoleh banyak manfaat termasuk inovasi yang berfokus pada bisnis, diferensiasi kompetitif yang meningkat, dan daya tanggap terhadap kebutuhan pengguna dan bisnis yang tidak terduga.

Para CIO dan CEO yang berpandangan ke depan yang telah menerapkan model operasional tangkas dan DevOps telah mencapai titik impas, termasuk penerapan aplikasi yang lebih sering, code yang berkualitas lebih tinggi, ketangkasan dalam menghadirkan dan mengembangkan fitur-fitur yang berpusat pada pengguna, serta kemampuan yang lebih besar untuk berinovasi dengan produk dan fitur baru.kbc6

Bagikan artikel ini: