Pemerintah cenderung abaikan risiko kenaikan harga minyak

Kamis, 25 Januari 2018 | 17:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Srihartati menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan mengabaikan resiko dari dampak kenaikan harga minyak mentah dunia.

Sebagai informasi saja Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan  kenaikan harga minyak mentah akan berdampak positif bagi penerimaan negara meskipun asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara ( APBN) 2018 terpaut jauh dengan fakta harga minyak dunia yang kini sudah di level US$70 per barel. Sementara dalam asumsi APBN 2018 hanya US$48 per barel.

Enny menilai pemerintah tidak menyadari ada risiko besar dibalik kenaikan harga minyak dunia. Dia tidak menampik memang dari sisi APBN , kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada peningkatan pendapatan negara dimana setiap kenaikan US$ 1 per barel, berpotensi menaikkan pendapatan negara sebesar Rp 0,2 - 0,9 triliun.

Namun ada sisi lain seperti kenaikan inflasi, neraca perdagangan migas yang berpotensi melemah sampai dengan pelemahan daya beli masyarakat atas respon terhadap kenaikan tersebut. "Kita juga geregetan dari Menkeu yang bilang itu baik-baik saja, memang itu berdampak positif tapi kita tidak bisa menutupi sebagai negara nett importir, kalau statemen itu seolah-olah menafikkan kekhawatiran pelaku ekonomi," kata Enny di Jakarta, Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Enny mengingatkan apabila pemerintah tidak segera menentukan kebijakan atau langkah dalam merespon kenaikan harga minyak dunia ini akan sangat fatal bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan bisa mengancam potensi pencapaian target pertumbuhan ekonomi. Namun paling dapat dirasakan dalam waktu dekat apabila tidak ada tips atau insentif khusus merespon kondisi ini, para pelaku pasar akan cenderung wait and see untuk melakukan investasi atau ekspansi usaha.

Enny memahami pemerintah mungkin tidak berani menaikkan harga BBM. Sebab saat ini Jokowi dihadapkan pada situasi politis dimana dirinya dikabarkan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden periode berikutnya. Sebab itu Enny berharap ada kebijakan khusus lainnya dalam merespon perkembangan harga minyak tersebut.

"Indef ingin berikan warning agar segera pemerintah memberikan kepastian langkah atau kebijakan untuk mewaspadai gejolak harga pangan dan energi karena keduanya menjadi komoditas yang berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian kita," ulasnya.

Ekonom Indef lainnya, Eko Listiyanto menambahkan secara detil pengaruh kenaikan harga minyak dunia tersebut berpotensi pada pelemahan nilai tukar rupiah. Sebab di saat harga minyak dunia naik permintaan dolar AS akan meningkat juga. Sementara kemampuan ekspor migas nasional masih sangat terbatas.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung terhadap peningkatan nilai impor sehingga akan mengganggu neraca perdagangan migas. Bahkan disebut-sebut defisit neraca perdagangan migas masih akan terus terjadi.

"Kenaikan harga minyak itu juga berpotensi mendorong peningkatan inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Bahkan ini juga bisa berdampak pada daya saing industri seperti industri penerbangan, 40 persen biaya operasional penerbangan itu ada di BBM, bagaimana kita bisa kompetisi dengan industri penerbangan asing kalau harga minyak kaya gini," ulasnya.

Lebih lanjut, apabila inflasi terkerek naik yang dipicu oleh kenaikan harga minyak, dampaknya akan merembet ke kenaikan suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan kredit yang melambat, investasi turun dan dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

" APBN mungkin ini (kenaikan harga minyak) akan untung tapi bagi masyarakat itu akan buntung karena akan banyak sekali hambatan untuk bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, sebab ada harga minyak itu akan memapar langsung ke masyarakat," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: