Larangan AGP untuk dorong daya saing produk unggas nasional

Jum'at, 26 Januari 2018 | 07:57 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Penerapan pelarangan penggunaan Antibiotical Growth Promotor (AGP)/penggunaan antibiotika sebagai pemacu pertumbuhan dalam imbuhan pakan unggas berlaku efektif mulai Januari 2018.  Pelarangan itu semata mata dimaksudkan  untuk meningkatkan daya saing produk unggas nasional dalam kancah global.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan  Kementerian Pertanian (PKH Kementan)  I Ketut Diarmita menegaskan tidak akan melakukan relaksasi pelarangan  penggunaan AGP.  Tanpa ketegasan dari pemerintah, penggunaan AGP baik peternak maupun industri pakan akan terus menggunakan AGP sebagai barometer pertumbuhan unggas.

Padahal, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat mencemaskan resistensi antibiotik akibat penggunaan AGP  yang tidak terkendali.  Sejumlah kajian para ahli baik dalam dan luar negeri AGP akan memicu efek residu terhadap produk peternakan yang akan membahayakan manusia.

Kendati belum ada fakta yang menguatkan dampak langsung penggunaan antibiotik dari hewan terhadap kesehatan pada manusia sebagai konsumen produk ternak. “Namun disisi lain hingga kini tidak kurang dari 700.000 orang meninggal setiap tahunnya karena resistensi terhadap antibotik,” ujar Ketut dalam Sarasehan Peternak Nasional 2018 yang diselenggarakan Perhimpunan Peternak Unggas Nasional (PPUN) di Bogor, Kamis (25/1/2018).

Ketut pun mengaku status pengendalian resistensi antimikroba dalam keamanan dan kesehatan hewan masih disclaimer. Untuk menjawab issue global ini, Ditjen PKH mengambil langkah strategis dengan merilis regulasi penetapan pelarangan penggunaan AGP yang dituangkan Permentan No 14 tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan.

Regulasi tersebut sebagai produk turunan dari UU No 41 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan khususnya Pasal 22 ayat 4 (c)  yang menyebutkan setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu atau antibiotik imbuhan pakan.  Ketut menegaskan langkah pelarangan AGP untuk menghindari kemungkinan potensi semakin meluasnya resistensi generasi mendatang terhadap antibiotik.

Karenanya, para peternak diminta untuk taat terhadap pelarangan penggunaan AGP untuk imbuhan pakan ternak. “Coba kita pikirkan bagaimana keturunan kita ke depan,” terangnya.

Meski diakui tidak mudah merubah kultur karena 80% profil kandang peternak unggas yang open house.Namun Ketut melihat kepatuhan peternak menerapkan pelarangan AGP pada imbuhan pakan akan meningkatkan daya saing produk unggas di kancah global.

Kesadaran untuk menghadirkan produk unggas yang berkualitas sehingga memenuhi persyaratan sanitary of and Phytosantiary (SPS) -pengelolaan resiko keamanan pangan perkarantinaan yang dituangkan dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).  Thailand, sebut Ketut dapat memenuhi permintaan dunia karena peternak sudah membuat zona produk peternakan yang terbebas penggunaan AGP.

Ketua Umum (Ketum) Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Herry Darmawan mengatakan anggotanya siap mematuhi dan menjalankan penggunaan AGP untuk pakan ternak. Meski hal itu akan menambah ongkos pakan 10% . Perhitungannya masa panen ayam boiler sebesar 30 hari, namun apabila konsumsi AGP ditiadakan maka pertumbuhannya lebih lama tiga-empat hari.

Herry menambahkan pertumbuhan berat unggas dipengaruhi 30% dipengaruhi faktor genetik,justru 70% merupakan faktor lingkungan seperti aspek kualitas pakan ternak, udara ,kondisi kandang serta kesehatan ternak.Asupan nutrisi yang memadai seperti kadar 21% protein dan kandungan vitamin diharapkan dapat membantu pertumbuhan,

Selain itu kelembaban, suhu dan sirkulasi udara dan kepadatan ayam juga turut mempengaruhi pertumbuhan. “Harusnya satu meter kandang hanya berisi delapan ekor ya kita ikuti.Lingkungan ayam yang nyaman seperti apa , kita sebagai manusia  selayaknya akan ikuti,” terang Herry seraya mengakui belum ada produk yang mampu menggantikan AGP, meski sudah ada subtitusi seperti prebiotic, asam esensial dan enzim.

Dia berharap badan litbang dan industri pakan melakukan riset bersama menemukan formula pengganti AGP. Herry melihat pelarangan penggunaan AGP tidak memberi manfaat anpa dibarengi pengawasan yang ketat seperti di pintu Bea Cukai dan Badan Karantina. Menurutnya tidak sulit mengawasi peredaran AGP untuk imbuhan pakan karena bahan bakunya 100 %  berasal dari impor.

Direktur Kesehatan Hewan, Fajar Sumbing Tjatur Rasa mengatakan, hingga kini belum ada riset di industri peternakan global yang mampu menggantikan peran AGP.  Karenanya, Fajar mengatakan pelarangan AGP bagi imbuhan pakan harus disertai kesadaran pemangku kepentingan terutama peternak untuk meningkatkan biosekuriti 3 zona khususnya skala kecil dan menengah. Prinsipnya agar kuman penyakit tidak masuk ke peternakan ayam. Selain itu peningkatan kualitas pakan serta pemilihan DOC sehat dan berkualitas.kbc11

Bagikan artikel ini: