Kadin: Maraknya kecelakaan konstruksi karena banyak pekerja lalai

Jum'at, 26 Januari 2018 | 08:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mendorong pemerintah untuk membentuk Komite Nasional Keselamatan Konstruksi yang terintegrasi dari pusat sampai daerah. Adapun anggota dalam komite ini nantinya ada keterwakilan dari pemerintah, Kadin sebagai wakil dunia usaha dan ahli atau pakar konstruksi.

Langkah ini harus dilakukan seiring dengan maraknya kasus kecelakaan dalam proyek konstruksi akhir-akhir ini yang terjadi hampir berurutan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Konstruksi dan Infrastruktur, Erwin Aksa menilai, maraknya kecelakaan dalam pengerjaan konstruksi infrastruktur disebabkan oleh kelalaian sumber daya manusia (SDM).

"Hampir semua kecelakaan kerja karena kelalaian, mungkin pengawas tidak kerja dengan baik atau pelaksananya tidak ikuti prosedur, karena sudah menganggap remeh atau biasa," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Konstruksi dan Infrastruktur, Erwin Aksa dalam diskusi di Menara Kadin Indonesia, Jakarta (25/1/2018).

Dia bilang, banyak tenaga kerja di proyek infrastruktur yang meremehkan pentingnya bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Alhasil, itu menjadi peluang terjadinya kecelakaan kerja.

"Biasanya pekerja kita kalau disuruh baca SOP malas karena anggapnya udah kerjaan rutin, narik kabel, kemudian masang kabel dan sebagainya. Itu udah kerjaan sehari-hari dan rutin sehingga ketika mereka anggap remeh SOP, itu ditinggalkan, dan pada saat SOP ditinggalkan ini lah kecelakaan kerja terjadi," lanjutnya.

Menurutnya pun masih ada tenaga kerja di bidang konstruksi yang hanya mengandalkan jam terbang, sementara dia tidak memiliki cukup pemahaman teknis di bidang tersebut. Padahal bekerja sesuai standar diperlukan untuk meminimalkan dampak yang tidak diinginkan.

"Saya khawatir karena ini biasanya kalau pekerjaan lapangan biasanya pekerja yang sudah miliki budaya di situ," ujarnya.

Kata dia, harus diakui bahwa masih ada pekerja informal yang ahli di bidang konstruksi tapi tidak miliki sertifikasi dan kemampuan akademisi yang sesuai standar.

"Jadi ini perlu kita perbaiki gimana traditional worker kita bisa dinaikkan kapasitasnya. Kalau tidak punya sertifikat, kita sertifikatkan, jangan mereka kerja karena kebiasaan. Kita harus sertifikasi dan juga menjaga mereka tahu apa yang namanya SOP bukan karena kebiasaan," tambahnya. kbc10

Bagikan artikel ini: