Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,45 persen di 2017

Senin, 05 Februari 2018 | 19:52 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kinerja ekonomi Jawa Timur sepanjang 2017 tercatat mengalami perlambatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, ekonomi Jatim 2017 dibanding 2016 mengalami pertumbuhan sebesar 5,45 persen, melambat dibanding 2016 yang mampu tumbuh sebesar 5,55 persen. Sedangkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim atas dasar harga berlaku tahun 2017 mencapai Rp 2.019,2 triliun.

“Semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan. Hanya saja tidak sebesar 2016. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh sebesar 7,91 persen, diikuti pertambangan dan penggalian sebesar 7,47 persen dan informasi serta komunikasi sebesar 6,92 persen. Sementara dari sisi pengeluaran terutama didorong oleh komponen lembentukan modal tetap bruto yang tumbuh sebesar 6,07 persen,” terang Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono di Surabaya, Senin (5/2/2018).

Adapun struktur perekonomian Jawa Timur menurut lapangan usaha tahun 2017 masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 29,03 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 12,80 persen, dan perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor sebesar 18,18 persen.

“Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2017, lapangan usaha industri pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,66 persen, diikuti perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 1,14 persen, konstruksi 0,63 persen; serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 0,41 persen,” tambahnya.

Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,17 persen. Lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh melambat dari 2,41 persen pada tahun 2016 menjadi 1,48 persen pada tahun 2017.

“Curah hujan tinggi dan serangan hama di beberapa wilayah menyebabkan turunnya produksi tanaman pangan terutama padi. Faktor tersebut yang mengakibatkan Sub Kategori Tanaman Pangan terkontraksi sebesar -2,18 persen. Sedangkan pada lapangan usaha industri pengolahan tumbuh meningkat dari 4,44 persen pada tahun 2016 menjadi 5,69 persen pada tahun 2017,” ujar Teguh.

Jika dilihat dari sisi pengeluaran, ekonomi Jatim tahun 2017 tumbuh sebesar 5,45 persen sedikit turun 0,13 point bila dibandingkan tahun 2016. Sebagian besar komponen mengalami pertumbuhan, kecuali komponen ekspor luar negeri yang mengalami kontraksi sebesar 4,26 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,07 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,54 persen dan Komponen Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 3,47 persen

       

Struktur PDRB Jawa Timur menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada 2017 tidak menunjukan perubahan yang berarti, aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mecakup lebih dariseparuh PDRB Jawa Timur yaitu sebesar 59,07 persen. Komponen lainnya yang memiliki peranan besar terhadap PDRB secara berturut-turut adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 28,96 persen dan ekspor luar negeri sebesar 14,07 persen.

Dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2017, komponen PK-RT merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 2,73 persen; diikuti komponen PMTB sebesar 1,67 persen. Sementara sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dari komponen lainnya sebesar 1,05 persen.kbc6

Bagikan artikel ini: