Intervensi melalui operasi pasar beras, ibarat menggarami lautan?

Selasa, 06 Februari 2018 | 22:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejak Oktober 2017, Perum Bulog sudah menggeluarkan beras cadangan beras pemerintah (CBP) untuk melakukan stabilisasi harga beras.Namun merujuk laman pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS) harga beras kelas medium masih stabil tinggi.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan OP dari CBP mencapai 225.565 ton. Artinya, penugasan pemerintah tersebut sudah mengambil porsi  80,5 dari total CBP sebesar 280.000 ton.Selain diperuntukan untuk menurunkan harga beras di pasar, beras CBP tersebut juga untuk kebutuhan darurat pangan dalam kondisi rawan bencana dan bantuan pangan internasional.

Beras tersebut digelontorkan untuk kegiatan OP. Di Jakarta, beras OP dijual Rp 9.350 per kg ditingkat ritel, lebih murah Rp 100 dari Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium Rp 9.450 per kg.Harga tersebut sudah memperhitungkan margin pedagang yang turut berpartisipasi menurunkan harga beras.

Namun,hingga Selasa (6/2/2018) harga beras medium II sebesar Rp 13.600 per kilogram (kg) di Jakarta dan Jawa Timur  Rp 11.600 per kg.Harga beras masih stabil tinggi. Belum seperti yang diharapkan pemerintah.

Kepala Divisi Penyaluran Bulog Abdul Aziz Ali kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Selasa (6/2/2018) mengatakan adanya OP sedianya akan memperbesar volume beras ke pasar . Penurunan harga beras diakui tidak dapat secepat apa yang diharapkan karena komoditas pangan ini dikonsumsi setiap hari mayoritas masyarakat . Konsekuensinya permintaan beras tiap hari bersifat konstan atau tetap, sementara faktor harga sangat bergantung dengan ketersediaan beras di pasar.

Abu menambahkan mekanisme OP memperbolehkan pedagang yang mengambil beras Bulog melakukan mixing atau percampuran jenis beras sehingga dapat menjual beras sebesar Rp 9.350, lebih murah Rp 9.350 per kg. Hal ini sebagai konsekuensi  beras OP Bulog merupakan beras yang tersimpan di gudang lebih dari empat bulan sehingga dikhawatirkan telah mengalami penurunan kualitas. Praktik ‘mixing’ beras ini diperbolehkan pemerintah seperti dituangkan dalam Permendag No 31 tahun 2018 tentang OP CBP.

Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo kepada kabarbisnis.com mengatakan hingga pekan ini pihaknya memesan beras medium Bulog untuk OP  sebesar 6.000 ton .Kontribusi beras Bulog terhadap stok PBIC sebesar 34 -38% yang berada di posisi 24.410 ton. Jumlah tersebut dibilang berada dilevel aman yakni di atas 30.000 ton.

Arief mengatakan apabila Bulog tidak menggelontorkan OP beras ke pasar maka harga beras medium kelas II saat ini yang berada diatas Rp 11.000 per kg , dapat saja melonjak menembus Rp 13.000-Rp 14.000 per kg. “Ada anggapan OP beras tidak efektif karena harga beras tidak berangsur turun. Padahal kalau tidak ada OP maka tidak ada intervensi beras ke pasar. Akibatnya harga beras akan mahal.Fungsi OP beras ini untuk meredam kenaikan harga beras,” terangnya.

Arief menambahkan kebijakan pemerintah mengimpor beras 500.000 ton pun ternyata tidak memberikan efek psikologis yang membuat harga beras menurun. Ini artinya pasokan beras dari sentra produsen memang belum banyak. Pedagang tidak terlalu menggubris,sehingga harga beras bertahan di harga tinggi karena belum ada kepastian kapan impor beras tersebut benar dapat bersandar di pelabuhan.

Karenanya Arief melihat impor beras 500.000 ton itu memang relevan karena dibutuhkan untuk menjaga ketahanan stok pangan pemerintah. Apalagi informasi yang diterimanya stok beras Bulog tinggal beras 690.000 ton terbilang cukup mengkhawatirkan .Selain itu beras impor tersebut rencananya akan didistribusikan langsung ke gudang Bulog.

”Impor beras itu tidak ada kaitannya dengan panen petani. Harga beras di pasar akan berangsur turun apabila prediksi Kementerian Pertanian dapat membuktikan panen raya akan terjadi  pada Februari ini,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: