Harga minyak mentah Indonesia melonjak, kenapa?

Rabu, 07 Februari 2018 | 15:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan Januari 2018 mengalami peningkatan dibandingkan bulan Desember 2017. Rata-rata ICP naik sebesar USD 4,69 per barel menjadi USD 65,59 per barel dari USD 60,90 per barel pada Desember 2017. Demikian dikutip dari keterangan resmi Kementerian ESDM.

Tim harga minyak Indonesia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, peningkatan peningkatan rata-rata harga minyak mentah Indonesia tersebut mengikuti perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Januari 2018 dibandingkan bulan Desember 2017, yang mengalami peningkatan:

- Dated Brent dari USD 64,19 per barel menjadi USD 69,18 per barel (naik USD 4,99 per barel).

- Brent (ICE) dari USD 64,09 per barel menjadi USD 69,08 per barel (naik USD 4,99 per barel).

- WTI (Nymex) dari USD 57,95 per barel menjadi USD 63,67 per barel (naik USD 5,72 per barel).

- Basket OPEC dari USD 62,06 per barel menjadi USD 66,88 per barel (naik USD 4,82 per barel).

Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menyebut, kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional dipicu kesepakatan pembatasan produksi antar negara-negara OPEC dan Non OPEC di akhir bulan November 2017, proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2018 meningkat 0,06 juta barel per hari (bph) menjadi sebesar 98,51 juta bph, juga turunnya jumlah rig di Amerika Serikat dari 931 rig menjadi 924 rig pada Desember 2017.

Sementara itu IEA (International Energy Agency) melaporkan harga minyak saat ini dipengaruhi turunnya produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada bulan Desember 2017 sebesar 0,06 juta bph, dari 39,18 juta bph menjadi 39,12 juta bph dibanding bulan sebelumnya, begitu pula produksi negara-negara Non-OPEC, turun dari 58,95 juta bph menjadi 58,60 juta bph (turun 0,35 juta bph).

Melemahnya nilai tukar Dollar AS dibandingkan mata uang lainnya khususnya Euro dan meningkatnya permintaan heating oil di Amerika Serikat akibat musim dingin menjadi faktor lain pemicu tingginya harga minyak, sebagaimana dilansir EIA (Energy Information Administration) - USA, disamping kondisi geopolitik Timur Tengah dan Afrika yang masih bergejolak.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi antara lain, meningkatnya permintaan minyak di Vietnam bersamaan dengan menurunnya suplai minyak di negara tersebut, juga meningkatnya crude oil throughput pada refinery di Korea Selatan, Taiwan dan Cina serta terjadinya ledakan pada gasoil production unit yang memproduksi 200 ribu bph di Taiwan. kbc1

Bagikan artikel ini: