Bos Mayapada Group buka rahasia suksesnya, apa itu?

Selasa, 20 Februari 2018 | 17:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: CEO Mayapada Group, Dato’ Sri Tahir, membagikan sedikit kisah perjalanan hidupnya. Pengusaha yang berada dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia versi Forbes tersebut mengatakan, ia sangat disiplin dalam kesehariannya bahkan hingga usianya hampir menginjak 66 tahun.

“Saya ini nggak disiplin. Saya super disiplin. Setiap pagi saya bangun on time pukul 5.30, paling lambat pukul 5.45. Lalu, saya baca koran Mandarin, Inggris, Indonesia. Semua kejadian di negeri ini, baik itu militer, politik, budaya, saya pelajari. Kenapa? Karena ada (rasa) tanggung jawab pada diri saya. Saya tidak mau jadi orang normal. Saya mau menjadi orang yang lebih dari normal,” ujarnya pada acara bertajuk “Supermentor-21: What the Future Looks Like”, di Grand Sahid Jaya Hotel, Minggu (18/2/2018).

Kedisiplinan Tahir datang dari rasa tanggung jawab besar yang ia tanamkan dalam dirinya. Ia menekankan, manusia terendah justru adalah mereka yang ingin menjadi dirinya sendiri, yaitu orang-orang yang memiliki prinsip “be yourself”. Mengapa demikian?

“Manusia yang berada di tingkat atas adalah manusia yang dikontrol oleh tanggung jawabnya. Bukan orang dengan prinsip be yourself. Jadilah manusia yang berprinsip be somebody else. Tanggung jawab itu lebih tinggi dari kesenangan dan hobi Anda,” kata Tahir.

Untuk menjelaskan maksudnya, ia menceritakan kisah tentang salah satu direktur perusahaannya. Direktur yang tidak disebutkan namanya tersebut datang pada Tahir untuk meminta cuti selama 1 bulan dengan alasan stres. Sebagai pemimpin, Tahir bukannya menegur atau mengiyakan, tetapi ia hanya tertawa dan mengajak direktur itu melihat jalan raya dari jendela ruang kerjanya.

“Saya bilang, lihat di bawah banyak tukang ojek, banyak orang yang mendorong gerobak untuk menjual barangnya. Saya bilang sama direktur itu, Anda cuti 1 bulan, alasannya karena stres. Tapi orang-orang di bawah itu, tukang ojek, tukang jualan, dia tidak pernah tahu kata stres di kamusnya. Yang dia tau adalah kalau hari ini saya tidak tarik ojek, kalau saya tidak jualan, maka anak saya tidak bisa hidup.’ Manusia harus berada di bawah tanggung jawabnya, bukan menjadi diri sendiri (dan bertindak semaunya),” katanya.

Ia mengatakan, manusia harus menentukan tujuan hidup dengan tepat. Jangan sampai memutar balikkan tujuan hidup dengan prasarana hidup. Menurut Tahir, tujuan hidup bukanlah menjadi sesuatu, seperti presiden, profesor, ataupun orang terkaya di dunia. Itu semua hanyalah prasarana hidup.

“Tujuan hidup manusia adalah untuk menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan untuk banyak orang. Buatlah orang lain bahagia,” katanya yang kemudian disambut tepuk tangan meriah dari para peserta Supermentor-21. kbc10

Bagikan artikel ini: