Barata mulai fokus garap pembangkit listrik

Rabu, 21 Februari 2018 | 06:45 WIB ET

BLITAR, kabarbisnis.com: PT Barata Indonesia (Persero) semakin menunjukkan eksistensi sebagai perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang pembangkit listrik tenaga terbarukan. Selasa (20/2), Barata Indonesia merampungkan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Lodagung (2x650 kW) yang merupakan sinergi antara Barata Indonesia dengan Perum Jasa Tirta I.

Proyek PLTM yang terletak di Kelurahan Jegu, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar tersebut menambah daftar proyek pembangkit listrik energi terbarukan yang pernah dikerjakan oleh Barata Indonesia. Mulai dari PLTM Walesi (500 kW), PTLM Cipayung 4-B (300 kW) PLTM Kayu Aro (950 kW) serta PLTM Parmonangan yang baru saja diselesaikan pada Februari 2017 lalu.

Beberapa waktu lalu, Barata Indonesia juga mendapatkan kontrak untuk mengerjakan PLTM Batang Toru 3 (2x5 MW)  di Sumatera Utara.

Direktur Utama Barata Indonesia, Silmy Karim mengatakan, salah satu fokus utama Barata Indonesia saat ini menangani proyek-proyek bidang energi terbarukan. Selain itu, pembangkit listrik berbasis renewable energy juga masih sangat minim di Indonesia. "Peluang bisnis ini masih tinggi di tanah air, Barata akan terus mengembangkan teknologi terkait melalui kerja sama dengan mitra-mitra yang berkompeten,” ujarnya.

Meski Barata Indonesia lebih dikenal sebagai perusahaan manufaktur, salah satu fokus bidang usaha  perusahaan mulai dialihkan ke bisnis pembangkit listrik. Untuk mendukung hal tersebut, sejak dua tahun belakangan, Barata Indonesia juga telah berkerjasama dengan beberapa nama besar dalam dunia pembangkit listrik baik dalam maupun luar negeri. Seperti Siemens, Wartsila. Hal itu dilakukan untuk mendukung kompetensi yang telah dimiliki Barata Indonesia.

PLTM Lodagung (2x650 kW) menggunakan metode penyediaan air yang unik  yakni dengan memanfaatkan debit air yang terdapat pada Bendungan Wlingi Raya. Sehingga PLTM yang biasanya menggunakan head (jatuhan air) yang tinggi, untuk PLTM Lodagung (2x650 kW) cukup menggunakan head dengan ketinggian rendah dalam menghasilkan debit air yang kemudian dikombinasikan dengan pemakaian turbin Kaplan. 

Metode tersebut diharapkan bisa diterapkan lebih banyak lagi di Indonesia. kbc3

Bagikan artikel ini: