Bulog jamin 12 ribu ton beras impor tak merembes ke pasar Jatim

Selasa, 27 Februari 2018 | 08:21 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com:  Perum Bulog Devisi Regipnal (Divre) Jawa Timur (Jatim) memastilan beras impor sebanyak 12 ribu ton yang sudah masuk ke gudang Bulog Buduran Sidoarjo tidak akan merembes ke pasar Jatim. Jumlah beras premium asal Thailand itu sandar di Pelabuhan Tanjung Perak sejak 20 Februari 2018 lalu hingga Minggu (25/2/2018) malam.

Kepala Sub Divre Surabaya Utara Agus Sutarto mengatakan bahwa beras impor dari Thailand tersebut akan disimpan Bulog selama jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Karena diakui Agus, Bulog hanya ketempatan gudang penyimpanan, untuk pendistribusian menunggu perintah dari pemerintah pusat.

"Saya pastikan beras tersebut tidak akan disalurkan di wilayah Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah menyatakan menolak masuknya beras impor. Gubernur Jawa Timur, Soekarwo sendiri yang dengan tegas menolaknya karena Jawa Timur masih surplus beras. Dan rencananya beras impor ini akan didistribusikan untuk wilayah Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur, Ambon dan Papua. Tetapi untuk realisasi pengirimannya tunggu perintah dari pusat,” tegas Agus di Sidoarjo, Senin (25/2/2018).

Beras impor yang masuk ke gudang Bulog Buduran ini tingkat broken atau pecahnya antara lima hingga 15 persen. Memang beras ini masuk dalam katagori pera atau non punel. “Untuk daerah Indonesia Timur, beras semacam ini lebih disukai dibandingkan beras punel,” tambah Kadivre Bulog Jatim, Cecep Panji Nandia yang ikut serta mendampingi kunjungan wakil rakyat dari Komisi VI DPR RI.

Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Harjo Sukartono mengakui beras impor ini dari tampilan luar beras impor ini memang bagus. “Tingkat brokennya 5 persen. Tapi ini katagori pera. Apakah ini disukai masyarakat secara luas, belum tentu. Karena mayoritas masyarakat Indonesia itu menyukai beras punel,” ungkapnya.

Karena itu, seharusnya pemerintah memperhatikan hal-hal yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas. “Kalau kebanyakan masyarakat Indonesia suka beras punel, terus beras impor ini mau dijual kemana,” tandasnya.

Bambang menilai, distribusi beras impor ini masih belum jelas. Impor ini diakui Bambang cukup bagus, dengan tujuan untuk mengantisipasi lonjakan harga beras yang mulai akhir tahun lalu mengalami peningkatan signifikan. “Lonjakan belum diteliti karena apa, apa karena kekurangan atau karena permainan,” jelasnya.  

Karena sejatinya Indonesia ini, kata Bambang justru surplus beras. Karena produksi gabah mencapai 77 juta ton atau 40 ribu ton beras. Sementara kebutuhan sebesar 32 juta ton per tahun.  “Masih ada kelebihan, tidak perlu impor,” tukasnya.

Namun, karena impor sudah terjadi, maka Bambang berharap, beras yang disimpan di gudang Bulog itu harus segera didistribusikan. Karena gudang Bulog tidak memiliki fasilitas lengkap untuk mengawetkan beras dalam waktu lama. “Dalam waktu tiga bulan ini harus habis didistribusikan. Daripada rusak dan busuk. Harus segera didistribusikan,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: