Ingin film karya anak bangsa kuasai bioskop Tanah Air, ini strategi Bekraf

Selasa, 27 Februari 2018 | 09:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri perfilman Indonesia terus menggeliat seiring meledaknya sejumlah film karya anak bangsa. Terbaru film Dilan 1990 yang sukses di bioskop Tanah Air. Hal itu membuat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus berupaya untuk mendorong subsektor tersebut berkembang.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf mengatakan, penambahan jumlah layar bioskop adalah salah satu indikator untuk mendongkrak perputaran uang di ranah perfilman. Dia membuat komparasi, bahwa penambahan layar dapat meningkatkan jumlah pengunjung bioskop, khususnya penonton film Tanah Air.

"Pada saat Bekraf baru berdiri tiga tahun lalu, layar bioskop hanya ada sekitar 1.100 layar, sekarang sudah 1.500 layar," ujar dia di Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta, Senin (26/2/2018).

"Itu selaras dengan jumlah penontonnya, di mana ketika 2015 ada sekitar 16 juta penonton film Indonesia. Jumlahnya naik jadi 34,5 juta pada 2016, dan akhir 2017 sudah mencapai 42 juta," Triawan menambahkan.

Lebih lanjut Triawan memaparkan, dana dalam pembuatan film juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, Bekraf membuat program bernama Akatara, yakni wadah untuk mempertemukan investor dan pembuat film.

Pada tahun lalu, Akatara tercatat berhasil memberikan investasi kepada 20 persen pembuatan film dari jumlah total film yang ditawarkan.

Triawan menjelaskan, ada tiga sektor yang diunggulkan Bekraf pada tahun ini, yaitu kuliner, fesyen, dan kerajinan tangan. Terdapat pula tiga subsektor yang menjadi unggulan, yakni musik, film, serta aplikasi. Namun begitu, dia menilai bahwa sektor perfilman dalam negeri tetap terus akan tumbuh.

"Setelah film Dilan 1990, nanti film lain kayak Benyamin Biang Kerok dan Wiro Sableng bisa meledak juga. Diharapkan itu bisa memicu gairah Perfilman Indonesia," pungkas Triawan.

Pemerintah Indonesia mendapat penawaran hibah senilai US$ 5,5 juta dari Korea International Cooperation Agency (Koica). Dana tersebut ditujukan untuk pembangunan Integrated Box Office System (IBOS) yakni sistem transparansi untuk bioskop.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan, semua data terkait bioskop bakal terbuka. Data tersebut seperti halnya jenis film yang diputar, waktu, sampai jumlah penonton. Pasalnya, selama ini pemilik bioskop cenderung tertutup untuk membuka data.

"Koica mereka sudah menawarkan hibah US$ 5,5 juta untuk membangun sistem IBOS di bioskop, sistem transparansi, kami menegosisasi bioskop di sini untuk mau terbuka," kata dia di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jakarta, pada 8 Maret 2017.

Dia mengatakan, untuk realisasi hibah mesti mendapat restu dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Menurut Triawan, hal tersebut bukanlah menjadi masalah.

Triawan menerangkan, sistem itu akan membuka data biskop. Dengan data terbuka, rumah produksi (production house) bisa memetakan film serta perencanaan produksi menjadi lebih matang.

"Jadi nanti tinggal pencet aja, film apa Laskar Pelangi, lagi main di sini, jam segini, penonton segini. Membantu production house merencanakan filmnya. Tanpa transaransi susah nebak-nebak aja," jelas dia.

Hibah ini diharapkan dapat mendorong perfilman di dalam negeri. Apalagi, pemerintah telah mengeluarkan film dari daftar negatif investasi (DNI).

"Setelah kami menghapus film dari DNI, kita undang pihak Korea untuk investasi di bioskop karena kekurangan layar bioskop. Dan layar bioskop itu hadir di Indonesia dengan jumlah cukup maka film Indonesia akan maju," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: