Intiland masih andalkan proyek di Jakarta dan Surabaya

Senin, 05 Maret 2018 | 07:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Intiland Development Tbk optimistis pasar properti di Tanah Air masih potensial. Oleh karenanya, emiten berkode saham DILD di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini akan menggenjot ekspansi proyek baru di tahun ini.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development Archied Noto Pradono menjelaskan, walau dihadapkan dengan tahun politik, pasar properti di Indonesia tetap berpeluang tumbuh di semua segmen. "Pasar properti di Jakarta dan Surabaya masih tetap ada," katanya, akhir pekan lalu.

Menurut Archied, yang diperlukan agar produk tetap bisa menarik minat pasar adalah membuat konsep yang menarik. "Konsep-konsep yang menarik itu agar bisa menarik para investor maupun pembeli," kata Archied.

Sekadar catatan, tahun ini Intiland berencana meluncurkan dua proyek baru. Pertama, proyek kawasan terpadu (mixed use) Tierra di Dharmo Harapan Surabaya. Kedua, proyek pembangunan apartemen di jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Archied mengatakan, proyek Tierra Dharmo Harapan akan dibangun di lahan seluas 6 hektare (ha). Proyek ini akan dirilis pada kuartal IV-2018. Tahap pertama, Intiland akan menawarkan unit apartemen di proyek ini dengan harga Rp 500 juta-Rp 2 miliar. Intiland mengklaim telah berinvestasi lahan di proyek ini senilai Rp 1 triliun.

Sementara untuk proyek baru di kawasan Jalan TB Simatupang Jakarta, Intiland akan menambah dua tower apartemen. Proyek ini juga akan diluncurkan pada kuartal IV-2018 secara bertahap. Menyasar segmen menengah, saat ini rencana pengembangan proyek itu masih dalam proses perizinan.

Tidak hanya meluncurkan proyek baru, tahun ini Intiland juga akan mengembangkan produk di proyek berjalan. Diantaranya, pembangunan satu menara apartemen Alenia di Graha Golf Surabaya, dan South Quarter II (apartemen) di Jakarta Selatan.

Meski menggenjot ekspansi proyek, Intiland akan konservatif memasang target pra penjualan (marketing sales) tahun ini. Maklum, proyek-proyek yang dikerjakan pengembang properti ini baru dirilis kuartal akhir 2018 sehingga belum maksimal menjaring pendapatan.

Tahun ini, Intiland menargetkan marketing sales Rp 3,3 triliun atau meningkat 15% ketimbang pencapaian tahun 2017 yang senilai Rp 2,93 triliun. Kontribusi terbesar dari proyek mixed-use dan high rise yang porsinya sebesar 75,7%. Nilainya mencapai Rp 2,5 triliun.

Penyumbang pendapatan berikutnya berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan (landed residential) sebesar Rp 606,8 miliar. Ada juga pengembangan kawasan industri (industrial estate) sebesar Rp 200 miliar.

Archied optimistis kondisi pasar properti Indonesia berangsur-angsur membaik. Ia tak menampik ada bayang-bayang risiko dan kekhawatiran dari memanasnya situasi politik karena pemilihan kepala daerah pilkada serentak maupun persiapan pemilu legislatif dan presiden 2019.

Pasar properti dalam beberapa tahun terakhir cenderung melemah lantaran pelaku pasar mengambil sikap menunggu (wait and see). Saat ini pasar mulai menunjukan tanda-tanda untuk kembali membaik seiring dengan mulai meningkatnya daya beli dan investasi properti.

Toh, dia mengklaim sudah mempertimbangkan segala aspek sebelum meluncurkan proyek atau produk baru. "Kami yakin kebutuhan masyarakat terhadap produk-produk properti masih akan terus meningkat, seiring membaiknya kondisi makro dan fundamental perekonomian nasional," kata Archied.

Selain target pra penjualan di beberapa proyek, manajemen Intiland telah menetapkan target pendapatan berulang yang berasal dari segmen properti investasi. Nilainya sebesar Rp 547 miliar. Jumlah ini meningkat sekitar 26% bila dibandingkan perolehan tahun 2017 yang mencapai Rp 432 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: