Kaji lepas saham di bursa, bos Go-Jek sambangi BEI

Selasa, 06 Maret 2018 | 10:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek Indonesia) menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Senin (5/3/2018).

Perusahaan rintisan “unicorn” berbasis teknologi tersebut juga menyampaikan keinginannya untuk melantai di pasar modal dalam negeri. Dengan demikian, mitra atau pengemudi juga bisa berkesempatan membeli saham Go-Jek.

“Kami di Go-Jek pun tentu saja mendambakan untuk bisa terdaftar di BEI. Sebab ini akan menjadi kebanggaan kami untuk bisa melantai di sini, sehingga masyarakat Indonesia termasuk mitra-mitra pengemudi kami bisa ikut memiliki saham Go-Jek,” kata President Go-Jek, Andre Soelistyo, saat menyambangi gedung BEI, Sudirman, Jakarta, Senin (5/3/2018).

Namun demikian, Andre belum bisa menjelaskan kapan akan melantai di BEI. Dia bilang kedatangan ke BEI untuk menemui langsung Direktur Utama BEI Tito Sulistio untuk berdiskusi lebih lanjut terkait otoritas pasar modal yang mendorong agar lebih banyak perusahaan rintisan dan teknologi melantai di bursa saham Indonesia.

“Belum ada yang spesifik mengenai rencana IPO Go-Jek termasuk mengenai kapan waktu yang tepat. Yang pasti, kami sangat serius dalam hal ini,” jelas Andre.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengapresiasi minat Go-Jek untuk menjadi perusahaan publik. “Silakan, kami siapkan (untuk Go-Jek) IPO. Yang belum (regulasi) apa," ungkap kata Tito di gedung BEI, Jakarta, Selasa, (20/2/2018).

Tito mengungkapkan, saat ini aturan di Bursa Efek Indonesia sudah memungkinkan perushaan rintisan berbasis teknologi atau startup melantai di BEI melalui mekanisme penawaran umum perdana saham.

Tito menjelaskan, perusahaan rugi pun bisa menjadi perusahaan publik dengan catatan bisa menyertakan proyeksi kapan akan memperoleh keuntungannya.

“Perusahaan rugi boleh IPO tapi mereka harus buat proyeksi kapan untungnya, kami minta kalau bisa dua tahun sudah untung. Aturan kami dua tahun," jelas Tito.

Selain aturan mengenai proyeksi keuntungan dalam dua tahun, BEI juga mengharuskan perusahaan yang akan IPO memiliki aset berwujud atau nett tangible sebesar Rp 5 miliar. “Nett tangible asset Rp 5 miliar, Go-Jek pasti bisa," pungkas Tito. kbc10

Bagikan artikel ini: