Era digital, Medsos jadi pasar menggiurkan bagi UKM

Kamis, 08 Maret 2018 | 08:20 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com:  Keberadaan Media Sosial atau Medsos akhir-akhirini cukup membantu bagi kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk meningkatkan kinerja mereka. Dengan semakin menggejalanya dunia digital saat ini, Medsos menjadi pasar yang cukup menggiurkan bagi UKM untuk menjual berbagai produk yang diproduksi.

Director, Market and Business Development Cisco, Prio Utomo mengatakan bahwa dengan digitalisasi ada dua kemanfaatan yang bisa ditemukan. Yang pertama adalah business opportunity, dimana ada beberapa orang yang bisa menemukan adanya peluang bisnis yang ada disekelilingnya.

“Disekeliling kita ada bisnis, tetapi tidak semua orang bisa menemukannya, hanya beberapa saja yang mampu menemukan. Bahkan jika dulu bisnis itu berkembang dalam hitungan bulan, maka dengan digitalisasi bisnis bisa berkembang dalam hitugan hari,” ujar Prio Utomo dalam acara Surabaya SMEs Go Digital and International di Surabaya, Rabu (7/3/2018).

Selain itu, digitalisasi juga mampu mendekatkan UKM dengan customer atau pelanggannya. Melalui facebook misalnya, UKM akan mampu menyapa pembeli dengan leluasa, berteman dengan mereka dan melayani mereka dengan baik. Bahkan menurut pengakuan Trainer Facebook, Niko Atmadja, dengan Facebook, dalam sebulan ia mampu menghasilkan pendapatan setara Upah Minimum Kota Kabupaten (UMK) Kota Surabaya.

Sementra itu, Kepala Balai Besar Pendidikan dan pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) Kementerian Perdagangan, Iriana Ryachudu mengatakan bahwa digitaltelah mempermudah kesadaran UKM untukmengetahui pasar yang semakin terbuka. Melakukan ekspor juga bukan menjadi hal mustahil yang sulit untuk dilakukan, karena , persoalan klasik UKM selama ini adalah ketidakpercayadirian mereka untuk memulai. Ekspor sama halnya menjual, hanya konsumennya berbeda negara. Sehingga yang perlu dilakukan adalah memenuhi berbagai kriteria dan aturan yang berlaku di negara tersebut.

“Dengan target pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4 persen, maka harus ada upaya unutk menaikkan kinerja ekspor hingga 7 persen. Dalam hal ini, UKM memiliki peran penting untuk mencapainya,” tegas Iriana.

Salah satu upaya yang telah dilakukan PPEI adalah dengan melakukan pendampingan dan pelatihan kepada UKM. Ada dua kategori pelatihan yang dilakukan, pertama adalah pelatihan singkat selama 3 hari dan di 2018 ini ditargetkan ada sekitar 127 angkatan dengan jumlah peserta sekitar 3.671 UKM yang ikut dalam kegiatan tersebut. Selanjutnya pelatihan lanjutan atau coaching atau pendampingan selama satu tahun. Ini diberikan kepada UKM yang siap melakukan ekspor.

“Kalau untuk coaching ini target kami tidak banyak, hanya sekitar 30 orang saja di tahun ini, karena untuk menyukseskan mereka juga butuh komitmen dari UKM yang bersangkutan, tidak bisa hanya dari kami saja,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Independent  Director PT HM Sampoerna Tbk. Yos Adiguna Ginting mengatakan bahwa PT HM Sampoerna sejauh ini telah berkomitmen untuk bersama-sama maju bersama UKM. Sampoerna tidak akan melupakan jika Sampoerna terlahir dari UKM. “Sehingga UKM secara nasional telah menjadi bagian dari kesuksesan yang dicapai oleh Sampoerna,” tegas Yos.

Dijelaskannya, selama ini ada dua kegiatan yang dilakukan Sampoerna untuk mendukung kinerja UKM. Pertama adalah dengan  melakukan riset dan kedua melalui pendampingan. Hinngga saat ini, sudah ada sekitar 33 ribu UKM yang ikut pelatihan di Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Pandaan.

Dari puluhan ribu UKM tersebut, sudah banyak yang naik kelas dan sukses melakukan ekspor ke berbagai negara, diantarnya adalah Gendis Collection, UKM tas kulit asal Sidoarjo dan Kesiman Jaya, UKM minuman herbal instan dari Pasuruan.kbc6

Bagikan artikel ini: