Harga BBM tak naik, Pertamina tanggung rugi Rp3,9 triliun

Senin, 19 Maret 2018 | 17:54 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) mencatat loss revenue dari hasil jual bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar sampai Februari 2018 sebesar Rp3,9 triliun. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya penyesuaian harga BBM sampai 2019.

Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan, perseroan telah mencatat potensi tambahan biaya jual BBM jenis Premium dan Solar sampai Februari 2018.

"Secara formula potensial loss Januari-Februari penugasan Premium dan Solar tidak termasuk JBU (Jenis BBM Umum) di Jawa nilainya Rp3,49 triliun. Ini dua bulan saja, kalau ditambah jual Premium di Jamali mencapai Rp3,9 triliun," tuturnya, di ruang rapat Komisi VII, Jakarta, Senin (19/3/2018).

Iskandar melanjutkan, potensi loss ini ke depan akan bertambah. Di mana proyeksi harga minyak mentah dunia pada level USD60 per barel bisa bertahan sampai akhir tahun.

"Estimasi sampai Desember, harga sama kurang lebih dikalikan sama. Belum tambahan 5-7% saat Lebaran karena Premium dan Solar meningkat. Potensi kerugian bisa Rp24 triliun," tuturnya.

Dia melanjutkan, perseroan telah melakukan hitungan potensi loss revenue terhadap penetapan formula harga BBM jenis Premium dan Solar yang masih berlaku saat ini.

"Jadi untuk Premium berdasarkan harga dasar Rp8.302 per liter plus 8% mestinya harga BBM RON 88 ini Rp8.600 per liter untuk April-Juni. Sedangkan kenyataannya masih di Rp6.450. Sehingga ada selisih Rp2.150 per liter," tuturnya.

Sedangkan untuk Solar, Iskandar mengatakan, dengan subsidi tetap Rp500 per liter, formula 102.30 HIV plus Rp900 per liter, setelah dikurangi subsidi mestinya harga Solar Rp8.350 per liter. "Saat ini berlaku Rp5.150 per liter, ini sudah termasuk Rp500. Masih ada selisih Rp3.200 per liter," tuturnya.

Sebelumnya, Iskandar mengatakan Premium berdasarkan harga dasar Rp8.302 per liter plus 8%, seharusnya harga BBM RON 88 tersebut adalah Rp8.600 per liter untuk periode April hingga Juni.

Sedangkan untuk Solar, Iskandar mengatakan, dengan subsidi tetap Rp500 per liter, formula 102.30 HIV plus Rp900 per liter, setelah dikurangi subsidi, seharusnya harga solar adalah Rp8.350 per liter.

Pemerintah pun sudah menaikkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar. Jumlah subsidi saat ini menjadi Rp1.000 per liter dari sebelumnya Rp500 per liter.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dari patokan yang ditetapkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp500 menjadi Rp1.000 per liter. Namun, dengan volume yang bisa dikonsumsi sebanyak 16,32 juta kilo liter (kl).

Sri Mulyani juga menegaskan, dengan penambahan subsidi ini maka akan ada jug apenambahan subsidi di APBN 2018. Penambahan diperkirakan sekitar Rp4 triliun sampai Rp5 triliun.

Menurutnya, hal ini dilakukan agar PT Pertamina (Persero) bisa terus menjalankan tugasnya memberikan BBM bersubsidi kepada masyarakat hingga 2019. Pada penghitungan sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan akan ada penambahan anggaran subsidi di APBN 2018 sebesar Rp4,1 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: