Jokowi ingin RI makin mesra dengan Selandia Baru

Selasa, 20 Maret 2018 | 14:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Masalaj peningkatan kerja sama ekonomi menjadi topik utama pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan PM Selandia Baru Jacinda Ardern yang dilaksanakan di Gedung Parlemen, Wellington, Senin (19/3) waktu setempat.

Peningkatan kerja sama ekonomi merupakan hal yang penting bagi kedua negara. Sebagai negara yang terbuka dalam perekonomiannya, Indonesia dan Selandia Baru sama-sama mengirimkan pesan bahwa hubungan perdagangan dan investasi dapat terjalin dan menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan.

“Hubungan perdagangan bukanlah zero-sum game.Oleh karena itu, mari kita berusaha menyelesaikan perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP),” kata Presiden.

Sementara dalam hal perdagangan bilateral, kedua negara telah menargetkan perdagangan sebesar NZD4 miliar di tahun 2024 mendatang. Untuk itu, diperlukan kerja keras kedua negara agar target tersebut dapat tercapai.

Presiden secara khusus mengapresiasi pasar Selandia Baru yang telah menerima komoditas unggulan Indonesia seperti kopi, manggis, dan salak. Saat ini, Indonesia berharap agar komoditas lain seperti mangga, pisang, dan nanas juga dapat diterima di sana.

Selain itu, Presiden meminta perhatian terhadap ekspor pakan hewan yang berasal dari ampas kelapa sawit agar tidak diganggu dengan hambatan non tarif.

“Saya juga meminta perhatian Yang Mulia mengenai ekspor pakan ternak dari ampas kelapa sawit yang mulai dipertanyakan dari aspek lingkungan,” sambungnya.

Ia meyakinkan, upaya untuk mengelola kebun kelapa sawit secara berkelanjutan dan ramah lingkungan terus dilakukan di Indonesia. Indonesia sendiri disebutnya memiliki kepentingan terhadap upaya pengelolaan berkelanjutan tersebut.

“Perkebunan kelapa sawit ini melibatkan 17 juta orang, 3 kali dari penduduk Selandia Baru. Separuh dari perkebunan dimiliki oleh petani kecil. Isu sustainability harus terus berjalan seiring isu hak kemakmuran bagi petani kecil,” tuturnya.

Adapun di sektor pariwisata, Presiden mendorong kerja sama dengan cara meningkatkan konektivitas udara bagi kedua negara. “Saya ingin mendorong peningkatan konektivitas udara untuk meningkatkan jumlah wisatawan dengan penambahan jalur penerbangan Auckland-Bali tahun ini dari 3 kali menjadi 5 kali,” ujarnya.

Untuk pengembangan geotermal, Presiden menginginkan kerja sama dapat ditingkatkan menjadi kerja sama investasi. Hal ini juga disampaikan Presiden ketika bertemu dengan Gubernur Jenderal Selandia Baru dan Ketua Oposisi (Ketua Partai Nasional Selandia Baru) Simon Bridges.

“Saya harap kerja sama geotermal dapat ditingkatkan menjadi kerja sama investasi dan bukan hanya pelatihan,” ucap Presiden.

Bagikan artikel ini: