Ini komitmen Bekraf dorong pengembangan startup kuliner

Rabu, 21 Maret 2018 | 07:55 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kesulitan mendapatkan pendanaan bagi pebisnis pemula (startup) masih menjadi persoalan mendasar dalam mengembangkan industri kreatif di tanah air. Padahal ada banyak pelaku startup yang layak mendapatkannya karena potensi bisnis yang digeluti cukup menjanjikan.

Kasubdit Dana Masyarakat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hanifah Makarim mengatakan bahwa  tiga tahun pertama menjadi perjuangan bagi stratup untuk bisa hidup. Pada masa-masa tersebut, mereka dituntut  harus lebih kreatif untuk bisa bersaing dan bertahan. Disisi lain, investor juga tidak begitu tertarik untuk mau mendanai mereka karena dipandang beresiko tinggi.

“Tiga tahun pertama kecenderungan berhasil susah, hanya  10 persennya saja yang biasanya bisa bertahan dan berkembang. Dan justru  ini yang menjadi kesulitan Bekraf untuk mencarikan investor yang mau berinvestasi di startup yang sedang berjuang. Karena startup ini juga tidak mengetahui kemana mendapatkan pendanaan selain ke perbankan,” ujar Hanifah disela acara Sosialisasi Food Startup Indonesia (FSI) 2018 di Surabaya, Selasa (20/3/2018).

Untuk itulah kemudian Bekraf terus berkomitmen mempertemukan mereka dengan para investor yang mau mendanai mereka sejak tahun 2016. Sedikitnya, sudah ada sekitar 20 startup dari berbagai sektor bisnis yang telah terfasilitasi dan mendapatkan investor, diantaranya startup digital dan starup perfileman . kali ini, Bekraf mencoba untuk menfasilitasi startup kuliner untuk mendapatkan kesempatan yang sama melalui even FSI 2018di 10 daerah .  

“Surabaya adalah kota ke delapan dari 10 kota tempat penyelenggaraan FSI 2018. Bekraf akan fasilitasi 100 startup kuliner Indonesia yang terpilih pada demoday 2018 untuk mendapatkan kesempatan mengikuti expo, meningkatkan kualitas produk serta picth desk saat mentoring dengan mentor jaringan Bekraf yang ahli dalam bidang kuliner serta berkesempatan mendapatkan investasi,” tambahnya.

Sementara itu, Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo mengatakan bahwa potensi startup kuliner di Indonesia cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDN) Indonesia, 43 persen disumbang oleh bisnis kuliner.

“Kuliner itu paling mudah dipahami oleh siapa saja. Kita punya dapur di rumah, bisa masak bisa dijual dengan go food. Ini banafit bagi semua yang akan masuk di sektor ini. Tetapi tantangan bagi Bekraf adalah bagaimana menghasilkan produk kuliner yang punya nilai tinggi, bukan sekedar bikin bisnis.” terang Fadjar.

Menurutnya, inovasi tidak hanya menjadi ruh startup kuliner, tetapi itu inti dari semua bisnis. Kalau bisnis ingin sukses dan ingin hidupnya lama, berkelanjutan dan  konsisten, maka pebisnis harus berinovasi, apalagi startup. Sebagai pendatang baru, mereka dituntut untuk mampu membuat sesuatu yang berbeda.

“Banyak trainer bisnis yang mengatakan amati, tiru dan modifikasi, ya kuncinya itu modifikasi. Modifikasi itu tidak harus semua baru, bisa soal rasa, penampilan, cara presentasi, tempatnya, cara jualannya. Karena pada akhirnya yang juara adalah mereka yang membikin inovasi,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: