Sasar sektor UMKM, bank syariah perlu model bisnis berbeda

Kamis, 22 Maret 2018 | 17:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tantangan penyaluran pembiayaan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dinilai masih cukup besar.

Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics, Aziz Setiawan, mengatakan, kebutuhan pembiayaan sektor UMKM sangat besar.

Karenanya, perbankan terutama syariah diarahkan untuk membuat model bisnis yang berbeda jika ingin menyasar sektor UMKM. Model bisnis tersebut harus menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan UMKM. Salah satu caranya dengan pendekatan kepada pelaku UMKM dan jemput bola.

Jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 60 juta. Namun, secara tren pertumbuhan jumlah pelaku UMKM tidak terlalu tinggi. Justru di bawah usaha mikro terdapat usaha ultra mikro yang pertumbuhannya cukup tinggi.

"Tantangan sektor UMKM ini jumlahnya besar, penyalurannya cenderung ritel atau kecil-kecil. Sehingga butuh saluran channeling lebih besar, sumber daya manusia lebih banyak, dan jaringan kantor lebih luas," kata Aziz, Rabu (21/3/2018).

Hal tersebut berbeda dengan penyaluran pembiayaan korporasi yang hanya butuh SDM lebih sedikit tetapi nominal penyalurannya besar. "Karena potensinya besar, ketika bank bisa menyalurkan sektor UMKM dan mengelola dengan baik, maka keuntungannya juga bagus," imbuhnya.

Sementara itu, penyaluran pembiayaan konsumtif juga memiliki tantangan tersendiri. Tingkat persaingannya tergolong tinggi. Namun, secara potensi sangat besar, melihat kondisi ekonomi yang ditopang oleh sektor konsumsi. Sehingga perbankan memiliki ruang yang besar untuk menyalurkan pembiayaan konsumtif, baik pembiayaan kendaraan bermotor, kepemilikan rumah, maupun kepemilikan barang-barang tertentu. kbc10

Bagikan artikel ini: