Proyek Fifty Seven Promenade Intiland kantongi penjualan Rp2,3 triliun

Rabu, 28 Maret 2018 | 10:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sementara kalangan beranggapan pelemahan daya beli masyarakat diakibatkan masih terdampaknya krisis ekonomi global . Namun hal tersebut tidak  sepenuhnya benar.

Contohnya di sektor properti. Pengembang PT Intiland Development Tbk misalnya yang  berhasil membubuhkan penjualan pemasaran sebesar Rp 2,3 triliun hingga kuartal pertama 2018 dari proyek pembangunan tahap pertama Fifty  Seven Promenade .  Padahal proyek dengan konsep mixed use & high rise terpadu dikawasan pusat bisnis di Kebon Kacang, Jakarta baru diluncurkan pada Agustus 2017.

Direktur Pengelolaan Modal  dan Investasi Intiland Acrhied Noto Pradono mengatakan perseroan akan melakukan pengerjaan konstruksi pada triwulan kedua tahun ini. Archied mengatakan pengembangan proyek Fifty Seven Promenade tahap  pertama menyediakan 496 unit kondominium .

Namun, ketika properti ini baru dirilis langsung mendapat respon yang baik dari pasar sehingga penjualan pemasaran sudah tercatat Rp 1,54 triliun pada akhir tahun lalu. “Unit yang terjual  sudah 90 persen atau hampir 400 unit . Tahun ini , kita targetkan penjualan mencapai Rp 2,6 triliun,” ujar Archied kepada wartawan di Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Proyek seluas 1,3 hektare ini  memulai pembangunan tower kondominum yakni City 57 setinggi 24 lantai dan sky 57 setinggi 49 lantai dilengkapi fasilitas basement lima lantai. Tipe unit yang disediakan beragam  , mulai dari tipe studio, tipe 1 bedroom hingga tipe 3 bedroom.

 Archied mengatakan melihat besarnya animo dari kalangan keluarga muda perseroan meluncurkan konsep interior bernama Duoflek. Konsep ini menawarkan fleksibelitas bagi para pembeli tipe 1 bedroom di tower sky 57 .

Dengan mengoptimalkan fungsi ruang melalui penambahan partisi sehingga menambah jumlah ruangan. Luas ruangan pun mencapai 82 meter persegi. “Dari 80 unit yang kita tawarkan , hanya tersisa 39 unit saja,” terangnya.

Archied meyakini segmen atas masih memiliki daya beli tinggi untuk memilih properti sebagai hunian atau pun sarana investasi. Namun untuk memancing minat daya beli tersebut, dibutuhkan produk yang inovatif. Prinsipnya, keluarga muda itu membutuhkan fleksibelitas dan kepraktisan dalam penggunaan ruangan.

Ketika unit kondominium ini mulai ditawarkan akhir tahun lalu bervariasi antara Rp 2,8-Rp 9,9 miliar, namun diluar dugaan unit dengan harga tertinggi justru habis terjual. Adapun unit yang masih tersedia tinggal dengan harga Rp 4,8 miliar –Rp 5,6 miliar.

Archied memperkirakan kharakter pembeli properti merupakan pengguna(50%) dan investor (50%). Adapun pembeli investor lebih berminat pada unit dengan tipe satu bedroom yang diharapkan dapat disewa oleh ekspatriat. Sarana infastruktur yang memudahkan mobilitas seperti kereta bandara, Mass Rapid Trancit (MRT) serta kawasan bisnis yang strategis juga faktor insitusi pengambang juga menjadi pertimbangan konsumen.

Pekerjaan konstruksi ditargetkan membutuhkan waktu hingga empat tahun. Dengan begitu , pembangunan dua tower kondominimum ini diproyeksikan dapat dituntaskan dan mulai diserah terimakan unit ke konsumen di triwulan ketiga tahun 2022.kbc11

Bagikan artikel ini: