Bawang putih dan BBM kerek inflasi Jatim di level 0,06 persen pada Maret 2018

Senin, 02 April 2018 | 18:10 WIB ET
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono

SURABAYA, kabarbisnis.com: Laju Indeks Harga Konsumsi (IHK) atau inflasi Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada bulan Meret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,06 persen. Besarnya inflasi tersebut dipicu oleh naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan masih tingginya harga bawang putih. Inflasi pada Maret 2018 ini lebih tinggi jika dibanding tahun 2017 pada periode yang sama, dimana pada bulan Maret 2017 mengalami deflasi sebesar 0,09 persen.

“Tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan Maret 2018 adalah bawang putih, bensin, dan bawang merah. Pasokan bawang putih yang masih belum dapat mengimbangi banyaknya permintaan di pasaran membuat harga bawang putih mengalami kenaikan. Minimnya realisasi impor bawang putih yang dilakukan pemerintah juga belum mampu menekan harga di pasar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono di Surabaya, Senin (2/4/2018).

Selain itu, menurut Teguh, kebijakan Pertamina untuk menaikkan harga BBM non subsidi jenis pertalite sebesar Rp 200 per liter terhitung mulai tanggal 24 Maret 2018 juga turut menjadi penyumbang utama terjadi inflasi di bulan Maret. Sementara bawang merah juga mengalami kenaikan harga akibat cuaca buruk yang mengakibatkan terjadinya gagal panen di beberapa daerah sentra bawang merah.

“Walaupun beberapa komoditas tercatat mengalami kenaikan, tetapi ada beberapa komoditas lain yabg justru mengalami penurunan harga dan menjadi penghambat terjadinya inflasi di bulan Maret 2018. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi ialah beras, telur ayam ras, dan wortel,” terangnya.

Menurut penjelasannya, harga beras di pasar bulan Maret 2018 berangsur-angsur mengalami penurunan, hal ini disebabkan telah masuknya beras hasil panen di beberapa daerah penghasil beras. Harga telur ayam ras dan wortel terpantau turun sejak bulan Februari 2018 kemarin, hal menyebabkan telur dan wortel menjadi dua komoditas utama yang menghambat inflasi selama dua bulan berturut-turut. Komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi ialah tomat sayur, kentang, kacang panjang, udang basah, jeruk,daging ayam ras, dan cumi-cumi.

"Dari pantauan BPS Jatim selama bulan Maret 2018, enam kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok Transporasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,33 persen, diikuti kelompok Sandang sebesar 0,27 persen, kelompok Kesehatan 0,14 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar 0,08 persen, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 0,05 persen, dan kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah ragasebesar 0,02. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,24 persen,” urainya panjang lebar.

Kondisi inflasi ini menurut Teguh terjadi di enam kota yang menjadi acuan IHK, sentara dua kota lainnyae mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Malang dan Banyuwangi yang masing-masing sebesar 0,12 persen, sedangkan Probolinggo dan Jember mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan 0,08 persen.

“Untuk tingkat Inflasi tahun kalender Januari hingga Maret 2018 di Jawa Timur mencapai 0,82 persen sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun atau year on year dari Maret 2018 terhadap Maret 2017 mencapai 3,16 persen,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: