Jadi pemicu inflasi Maret 2018, BPS: Efek kenaikan Pertalite masih akan berlanjut bulan depan

Senin, 02 April 2018 | 18:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi Maret 2018 sebesar 0,20% (mtm). Angka ini naik dibandingkan tingkat inflasi Februari 2017 sebesar 0,17%.

Adapun inflasi tahun kalender Maret adalah 0,99%. Sementara, inflasi tahunan Februari 2018 sebesar 3,4% year on year (yoy)

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, kenaikan harga yang diatur oleh pemerintah atau administered price memberikan kontribusi besar pada inflasi Maret 2018. Terutama dengan adanya kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax

"Yang andil dominan adalah kenaikan bensin. Di akhir Februari ada kenaikan Pertamax Rp300 per liter dan Pertamax turbo sebesar Rp500 per liter pada Februari 2018 yang masih ada dampak," ujarnya di Kantor BPS, Senin (2/4/2018).

Tidak hanya itu, kenaikan BBM non subsidi jenis Pertalite sebesar Rp200 per liter di 24 Maret 2018 juga turut memberikan sumbangan besar pada inflasi Maret 2018. Bahkan, kata Kecuk, kontribusi Pertalite pada inflasi masih akan berlanjut hingga bulan depan.

"Jadi yang dominan memberikan andil adalah kenaikan bensin. Naiknya harga Pertalite, bisa dipastikan pada bulan depan masih berikan andil terhadap inflasi," ujarnya.

Sementara itu, bahan makanan mengalami inflasi sebesar 0,14% dengan andil 0,05%. Ada komoditas bahan makanan yang mengalami kenaikan harga, tapi di sisi lain juga banyak komoditas yang mengalami penurunan harga.

Komoditas yang memberikan sumbangan kepada inflasi terutama adalah cabai merah dan bawang merah dan putih. Kondisi tersebut diakibatkan cuaca buruk sehingga mengerek harga komoditas.

"Harga cabai merah naik sehingga memberikan andil 0,07%. Kedua, bawang merah dan bawang putih masing-masing 0,04%," kata dia.

Di sisi lain ada beberapa komoditas bahan makanan yang harganya turun sehingga sumbang deflasi. "Pertama, harga beras bulan Maret menunjukkan penurunan, dan andil beras terhadap deflasi 0,10%. Kedua, ikan segar dengan andil 0,03% dan beberapa sayuran yang memberikan andil 0,01%," imbuh dia.

Untuk makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,26% sumbangannya 0,04%. Pada kelompok ini, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi adalah kenaikan rokok kretek filter sebesar 0,01%.

Untuk perumahan, air, llistrik dan bahan bakar andilnya hanya 0,01% dengan inflasi 0,06%. Disumbang dari upah tukang bukan mandor dengan andil 0,01%.

Kemudian kelompok sandang inflasinya 0,36%, tapi bobotnya tidak terlalu besar jadi andilnya hanya 0,02%. Komoditas yang memberikan andil besar adalah kenaikan emas dan perhiasan dengan andil 0,01%.

Untuk kesehatan dan pendidikan andilnya kecil 0,02% dan 0,01%. Sedangkan untuk transportasi, komounikasi dan jasa keuangan inflasinya 0,28% dengan andil 0,05%. "Menurut komponen, yang memberikan andil paling besar adalah inflasi inti yaitu 0,10%, inflasinya 0,19%," tutup dia. kbc10

Bagikan artikel ini: