Ekonom taksir inflasi tahun ini bisa tembus 4,5%, ini alasannya

Kamis, 05 April 2018 | 14:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonom Aviliani memproyeksikan tingkat inflasi akan lebih tinggi di posisi empat persen sampai 4,5 persen hingga akhir tahun ini. Angka itu bakal melebihi dari target pemerintah yang telah ditetapkan. Tingginya tingkat inflasi, disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan sulit turun kembali.

?"Tahun ini BBM sulit agak turun, kemungkinan BBM enggak turun. Kenaikan BBM akan meningkatkan inflasi. Inflasi sendiri telah terjadi di Maret 0,2 persen, kemungkinan akan kembali lagi terjadi di April. Jadi saya bilang, inflasi akan melebihi target, mungkin ke posisi 4-4,5 persen," kata Aviliani di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Aviliani mengatakan, untuk meredam inflasi tidak tinggi, maka tidak ada cara lain yang dilakukan pemerintah selain menjaga harga pangan. Jika itu bisa, maka ada harapan perbaikan untuk tingkat inflasi di tahun ini.

Pada saat menjaga harga pangan, ?sambung dia, pemerintah pusat harus menggandeng pemerintah daerah (pemda). Apalagi bulan puasa sudah sebentar lagi akan datang, sehingga pemerintah harus benar-benar menjaga harga pangan.

"Memastikan harga-harga di pasar harus lebih wajar, menjelang Ramadan cenderung tidak rasional. Masyarakat harus pintar dalam pembelian pangan, menggunakan substitusi untuk harga," jelas Aviliani.

Selain itu, demi menjaga pangan, pemerintah harus juga bisa menjaga data mengenai impor pangan. Pada saat tidak bisa dijaga dan telah terlihat oleh publik, maka ditakutkan bisa dimainkan oleh pelaku pangan yang cenderung melakukan aksi negatif.

?"Nanti takut ada pemain pangan, harga-harga pangan di daerah akan meningkat, kelihatannya sulit memperkirakan harga BBM turun, jadi pangan harus dikendalikan. Transportasi umum juga harus dipercepat, karena selama ini yang masih andalan masyarakat adalah menggunakan roda dua," tegas wanita yang juga menjabat sebagai Komisaris Independen di Bank Mega.

Dia menambahkan apaliba menjaga harga pangan juga tidak bisa dilakukan oleh pemerintah, maka masyarakat harus turun tangan dengan cara mengubah pola makan daging ke ayam.

"Konsumen sangat keberatan, konsumen sulit substitusi, jangan supply saja, tapi demand juga. Kalau daging sapi naik, bisa ke ayam. Otomatis itu bisa mengalihkan, jadi harga daging akan turun. Ketika harga daging turun, maka akan berdampak besar, tidak terjadi inflasi yang besar-besaran," tukas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: