Ekspor ikan patin terjun bebas, ini penjelasan KKP

Rabu, 11 April 2018 | 17:40 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume ekspor ikan patin pada 2017 hanya 5.321 ton. Angka itu merosot 52,22% dibandingkan 2016 yang mencapai 11.137 ton.Dari jumlah itu, sasaran ekspor ke Thailand sebesar 44 %, Jepang 15%, dan Myanmar 14%, Malaysia 6%, Inggris 4%, Prancis 3%, dan sisanya sebesar 14% ditujukan kepada negara lainnya.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Nilanto Perbowo menyatakan turunnya angka ekspor itu bukan karena kendala produksi di dalam negeri. “Tahun 2017 ekspor menurun karena ada peningkatan permintaan di pasar domestik,” kata Nilanto di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Nilanto menekankan produksi ikan patin masih terus meningkat. Catatannya, pada 2017 produksi patin nasional sebesar 437.111 ton, meningkat 28,91% dari tahun sebelumnya yang hanya 339.069 ton. Pada 2018, Nilanto menyatakan, target produksi patin meningkat 38,31% hingga menjadi 604.587 ton.

Rincian porsi wilayah produksinya, Sumatera 68,07%, Jawa 8,48%, dan Kalimantan 20,23%. “KKP terus melakukan pemantauan dan mendorong produksi patin nasional,” ujar Nilanto.

Guna menunjang peningkatan produksi tersebut, sejumlah usaha telah dilakkan diantaranya bantuan benih, program pakan mandiri, penyediaan induk patin unggul serta kerjasama dengan SMART Fish Indonesia.Program lainnya adalah membangun aplikasi untuk perluasan informasi tentang budidaya patin yang baik yakni memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk membatasi impor. KKP  berupaya meningkatkan produksi patin sebagai salah satu sumber perikanan tangkap, budidaya, dan pengolahan hasil perikanan.

Ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional. “Pascapenerapan kebijakan proteksi impor patin, geliat industri patin Indonesia menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,” katanya.

Strategi penelusuran hulu ke hilir ditujukan untuk meningkatkan peluang serta kebutuhan masing-masing pelaku usaha supaya terjalin jejaring bisnis antarpelaku usaha.Pemerintah juga memfasilitasi pembiayaan berupa dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam usaha komoditas patin. Bank Jatim juga memberikan kredit kepada 22 debitur dari 14 kelompok pembudidaya ikan patin di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dengan nilai Rp 7 miliar. Tujuan akhirnya adalah agar industri patin nasional bisa berdaya saing dan mampu menguasai pasar domestik serta internasional. kbc11

Bagikan artikel ini: