Bangun kemandirian pesantren, HIPMI ingin ada ritel Ummart di seribu ponpes

Kamis, 12 April 2018 | 15:20 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) berkomitmen membangun kemandirian pesantren di seluruh Indonesia. Untuk itu, HIPMI telah menargtkan pembentukan ritel modern bernama Ummat Mart (Ummart) di seribu pesantren hingga akhir 2018.

Ketua Umum HIPMI Jatim, Mufti Anam mengatakan bahwa program yang diinisiasi oleh Hipmi Jatim ini bermula dari program penguatan ekonomi rakyat berbasis pesantren atau yang biasa disebut ”Pesantrenpreneur” dengan melakukan monitoring dan pendidikan kewirausahaan untuk santri di pesantren  Program tersebut mendapat respon positif dari pemerintah yang kemudian diarahkan pada penguatan dan kemandirian pesantren.

Menurutnya, selama ini perputaran uang di pesantren sebenarnya sangat besar, namun tidak dikelola dengan managemen yang baik dan benar. Sehingga kemandirian pesantren masih belum maksimal terwujud. Padahal jika dihitung, perputaran uang di satu pesantren dengan jumlah santri sekitar 5 ribu santri bisa mencapai Rp 750 juta hingga miliaran rupiah.

Beberapa kelemahan yang ditemukan dalam usaha dagang di pesantren diantaranya adalah lemahnya managemen keuangan dan lemahnya managemen pelayanan serta ketidakpastian arus distribusi barang. Untuk itulah, dalam merealisasikannya Hipmi juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

“Bersama Kementerian Perdagangan dan Aprindo, Hipmi akhirnya memutuskan untuk membangun Ummart di sejumlah pesantren. Tahap awal sebagai pilot project, ritel Ummart akan didirikan di 10 pesantren di wilayah Banyuwangi, Pasuruan, Malang dan Probolinggo. Hingga akhir 2018 Ummart bakal ada di seribu pesantren dan di akhir 2019 bakal ada di 5 ribu pesantren,” ujar Mufti Anam kepada wartawan di Surabaya, Kamis (12/4/2018).

Khusus untuk 10 pesantren tersebut, investasi yang harus dikeluarkan dalam pendiriannya bakal ditanggung oleh Hipmi, Kemendag dan Aprindo.  “Kalau nilai investasinya itu sangat tergantung dari kondisi tempat jualan yang sebelumnya ada di pesantren. Kalau dihitung ya sekitar Rp 500 juta hingga Rp550 juta. Dan ini free untuk 10 pesantren yang menjadi pilot project sebagai program CSR,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, ada beberapa keunggulan yang diterapkan dalam managemen ritel Ummart dibanding ritel modern lainnya, diantaranya adalah bisa menjual secara grosir untuk toko-toko yang ada di sekitar pondok. Selain itu, karena ini semacam program CSR, maka tidak ada royalty fee yang dibebankan kepada pihak pesantren.

Ritel Ummart ini juga bisa menfasilitasi produk UKM dari masing-masing kabupaten. Agar kemandirian pesantren bisa terwujud, pendampingan manajemen perdagangan hingga pemasaran produk-produk pesantren juga akan dilakukan. Menurut Mufti, setiap pesantren punya potensi bisnis yang bisa dikembangkan, misalnya pertanian, perikanan, dan makanan-minuman.

“Bahkan ke depan sudah disiapkan pintu agar produk pesantren bisa masuk ke jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Kan keren kalau misalnya produk pertanian organik pesantren di pelosok desa bisa mengisi gerai-gerai ritel modern di kota-kota besar,” pungkas Mufti. kbc6

Bagikan artikel ini: