Salak hingga manggis RI siap segarkan pasar Ukraina

Rabu, 18 April 2018 | 16:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya  menggenjot akselerasi ekspor produk pertanian dalam negeri. Upaya terbaru ialah dengan membuka pasar buah tropis seperti pisang, nanas, salak, manggis, jeruk nipis, buah naga, dan mangga ke Ukraina.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatangan protokol kerja sama karantina antara Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan Banun Harpini dan otoritas Ukraina di sela-sela sidang tahunan ke-13 Commision for Phytosanitary Measures, International Plant Protection Convention, di Roma, Italia, Selasa (17/4/2018).

Banun mengatakan kerja sama tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia karena produk-produk pertanian Tanah Air kini memiliki lebih banyak tempat untuk dipasarkan dan dinikmati negara-negara mitra."Dengan telah resmi dibuka peluang pasar baru buah tropis ini, diharapkan masing-masing pihak baik para kelompok tani buah, pengelolah buah tropis (packaging house), eksportir, para kepala dinas pertanian yang ada di Propinsi/Kabupaten/Kota untuk mempersiapkan diri dalam memberikan jaminan kesehatan tumbuhan dan keamanan pangan guna memenuhi persyaratan ekspor," ujar Banun melalui keterangan tertulis di Jakarta,  Rabu (18/4/2018).

Komitmen kerja sama tidak hanya dilakukan dalam transaksi perdagangan tetapi juga dalam bidang perkarantinaan dan perlindungan tumbuhan gua mencegah masuk dan menyebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina."Kami melakukan koordinasi dalam tindakan fitosanitari, penerapan konsistensi untuk tindakan fitosanitari dan penguatan hubungan ekonomi dan perdagangan berazaskan implementasi bidang perkarantinaan dan perlindungan tumbuhan," jelas Banun.

Dalam persyaratan ekspor, lanjutnya, buah tropis harus memenuhi persyaratan sertifikasi fitosanitari antara lain buah berasal dari kebun dan rumah kemas untuk pemrosesan buah yang teregistrasi, bebas dari cemaran kotoran tanah, bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK), dan selama dalam angkutan harus bebas dari infestasi OPTK."Seluruh produk wajib disertai dokumen Phytosanitary Certificate yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian yang ada di tempat pengeluaran (Pelabuhan Laut dan Bandara) dan harus diberikan perlakuan standar bila ditemukan OPTK saat pemeriksaan petugas karantina," tegasnya.

Komoditas pertanian Indonesia yang sudah merambah pasar Ukraina selama ini antara lain minyak kelapa sawit, kopi, teh, kelapa parut, santan kelapa, bubuk coklat dan kayu manis. Sedangkan sebaliknya, dari Ukraina ke Indonesia ialah biji gandum, jagung, biji bunga matahari, ketumbar dan pakan ternak berupa sorghum dan millet.

Barantan mengungkapkan biji gandum yang masuk ke Indonesia dari Ukraina atau negara lain bukan semata-mata untuk kepentingan dalam negeri, melainkan untuk diproses kembali guna mendapatkan nilai tambah produk pertanian yang dikerjakan di dalam negeri untuk selanjutnya diekspor kembali."Itu dilakukan untuk memperkuat industri hilir dan kemudian diekspor sehingga mendatangkan devisa. Sementara, limbah dari industri gandum dimanfaatkan untuk pakan ternak," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: